Versi Bahasa | English Version

Islam adalah agama yang mendukung kesetaraan dan keadilan gender

Pada saat lahirnya, Islam merupakan agama yang progressif dan revolusioner, yang mengubah tradisi mainstream jahiliyah yang membenci dan merendahkan kaum perempuan. Memahami Islam tidak dapat dilepaskan dari konteks lahirnya karena memahami Islam secara literal tanpa mengetahui konteks diturunkannya Islam dapat menghasilkan pemahaman yang justru bisa mengabadikan budaya jahiliyah yang membenci dan merendahkan perempuan. Misal, tidak sedikit kaum Muslim masa kini yang memahami bahwa dalam Islam, bagian waris laki-laki adalah dua kali lipat perempuan dan kemudian ini difahami sebagai tanda bahwa laki-laki memiliki derajat yang lebih tinggi. Belum lagi pendapat ini didukung dengan pemahaman literal terhadap Al-Qur’an Surat (QS) 4: 34 dan QS 2: 228: yang sering difahami bahwa laki-laki adalah pemimpin dari perempuan dan bahwa laki-laki memiliki derajat yang lebih tinggi dari perempuan.

Berbeda dengan pemahaman parsial dan literal, pemahaman yang komprehensif dan kontekstual terhadap Al-Qur’an dapat menghasilkan pemahaman yang  berbeda. Misalnya tentang waris. Ada benarnya juga pemahaman terhadap QS 4: 11-12 bahwa dalam Islam bagian waris laki-laki adalah dua kali lipat perempuan atau bagian waris perempuan adalah setengah dari bagian laki-laki. Yaitu jika mereka dalam posisi sebagai anak dan dalam posisi sebagai suami dan istri. Namun tidak seluruhnya (tidak secara komprehensif benar) karena perempuan dan laki-laki dalam posisinya sebagai orang tua mendapat bagian yang sama jika si mati memiliki anak, sedang jika si mati tidak memiliki anak, maka bagian waris ibu adalah sepertiga sementara ayah mendapat ashabah (sisa). Sisa ini bisa lebih besar, sama atau lebih kecil dari bagian yang didapat ibu. Selain itu, Syahrur, seorang ulama kontemporer dari Siria memiliki interpretasi yang berbeda dengan para ulama atau umat Islam yang cenderung menggunakan QS 4: 11-12 sebagai dasar untuk mengunggulkan laki-laki di atas perempuan. Menurut Syahrur, bunyi ayat lidzdzakari mitslu hadzdzil unstayayn dalam QS 4: 11 maksudnya adalah bahwa batas maksimal bagian waris bagi laki-laki adalah sekitar dua kali lipat bagian waris perempuan, sementara bagian waris perempuan adalah minimal setengah bagian waris laki-laki. Alasannya, sebelum Islam tidak ada batas minimal waris laki-laki, semua waris adalah untuk anak laki-laki. Namun Islam sebagai agama yang ramah terhadap perempuan, membatasi bagian waris laki-laki menjadi maksimal sekitar dua kali lipat bagian waris perempuan, sementara anak perempuan, yang pada masa jahiliyah bahkan dianggap barang untuk diwariskan, diangkat derajatnya dengan diberi hak waris minimal setengah dari bagian waris laki-laki. Dengan penafsiran ini, maka jika ada orang tua yang memberikan waris laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan makan masih dalam batas yang telah ditentukan Allah. Demikian halnya jika ada orang tua yang memberikan waris laki-laki sama dengan bagian waris perempuan atau memberikan perempuan bagian yang lebih besar dari laki-laki. Yang melampaui batas adalah mereka yang tidak memberikan bagian waris sama sekali kepada anak perempuan atau yang memberikan waris kepada laki-laki melebihi dua kali lipat bagian perempuan. Jadi memahami Islam dengan mengetahui konteks diturunkannya ayat, misalnya tentang waris, justru akan menghasilkan pemahaman bahwa Islam meninggikan dan memuliakan derajat perempuan dari tradisi jahiliyah, sementara pembacaan yang literal dan parsial terhadap ayat Al-Qur’an justru cenderung merendahkan dan mengembalikan perempuan ke tradisi Arab jahiliyah. Wallahu a`lamu bish-shawab.

Selain itu, mayoritas umat Islam memahami QS 4: 34 dan QS 2: 228 sebagai dasar bahwa laki-laki adalah pemimpin dari perempuan dan bahwa laki-laki memiliki derajat yang lebih tinggi dari perempuan. Berbeda dengan mayoritas ulama terdahulu, Nasaruddin Umar, berdasarkan hasil penelitiannya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an berpendapat bahwa Al-Qur’an menggunakan kata dzakar (male) ketika merujuk pada biologis/jenis kelamin/kodrat laki-laki dan menggunakan kata unsay(female) ketika merujuk pada biologis/jenis kelamin/kodrat perempuan. Sementara Al-Qur’an menggunakan kata rijaalnisa’ atau mar’ah jika merujuk pada peran (sesuatu yang non-kodrati) laki-laki atau perempuan. Menurutnya pula, dzakartidak bisa begitu saja menjadi rijaal dan tidak semua dzakar bisa menjadi rijaal. Yang bisa menjadi rijaal adalah yang memenuhi dua syarat yang ditetapkan dalam Al-Qur’an Surat 4: 34 yaitu bahwa ia memiliki kelebihan dibanding pasangannya dan menafkahkan hartanya [untuk kepentingan keluarganya]. Kelebihan disini dapat berupa tingkat pendidikan ataupun penghasilan. Namun seseorang tidak bisa disebut rijaal hanya karena ia berpendidikan lebih tinggi yang biasanya berimplikasi pada penghasilan yang tinggi jika ia tidak menggunakan hartanya untuk menanggung biaya hidup keluarganya. Qawwaam di sini berasal dari kata qaama, artinya mendirikan atau menegakkan. Dalam konteks rumah tangga artinya adalah penegak/penyangga ekonomi rumah tangga. Huruf tasydid ditambahkan menjadiqawwaam, sehingga bentuk fa`ilnya bukan sekedar qaa’imum untuk menunjukkan keberlanjutan atau kekonsistenan prilaku menopang tersebut.

Pada umumnya rijaal memang berjenis kelamin dzakar (laki-laki), namun menurut Umar, tidak semua dzakar bisa menjadi rijaal, jika ia tidak memenuhi kedua syarat tersebut. Karena yang menjadi rijaal bukan berdasar pada jenis kelamin, melainkan pemenuhan kedua syarat tersebut, maka untsa’ (perempuan) yang memenuhi kedua syarat tersebut dapat menjadi rijaal. Jadi rijaal tidaklah bersifat kodrati, atau diterima begitu saja karena berjenis kelamin tertentu, melainkan dicapai dengan pemenuhan kedua syarat tersebut, apa pun jenis kelaminnya. Karena memiliki kelebihan baik dari segi pendidikan ataupun penghasilan serta menafkahkan harta yang dimiliki ini perlu usaha dan pengorbanan, maka rijaal (orang yang memiliki kelebihan dan menafkahi keluarganya, apa pun jenis kelaminnya) memiliki derajat yang lebih tinggi ketimbang pasangannya, seperti yang disebutkan dalam QS 2: 228.

Berdasarkan penafsiran baru yang dikemukakan Nasaruddin Umar dapat disimpulkan bahwa baik laki-laki ataupun perempuan yang memenuhi dua kriteria yang disebutkan dalam QS 4: 34 bisa menjadi pemimpin rumah tangga. Menjadi pemimpin rumah tangga adalah peran, yang diperbuat manusia, sehingga bisa dipertukarkan untuk dikerjakan baik oleh laki-laki atau perempuan. Ketika laki-laki menjadi pencari nafkah, maka adil jika perempuan sebagai pasangannya menjadi penanggung jawab urusan rumah tangga; demikian halnya, ketika istri mencari nafkah, idealnya suami yang tidak mampu memberi nafkah bersikap fleksibel dengan mengambil alih pekerjaan rumah tangga atau jika keduanya merupakan pencari nafkah, maka adil bagi keduanya untuk berbagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehingga keadilan dapat tercapai antara laki-laki dan perempuan.

Selain Nasaruddin Umar, ulama kontemporer lain seperti Asghar Ali Engineer memahami bahwa QS 4: 34 merupakan ayat sosiologis. Artinya, ayat tersebut merupakan gambaran sosiologis saat diturunkannya ayat. Yaitu bahwa pada saat diturunkannya ayat, ar-rijaal qawamuuna `alan nisa’, bukan ayat teologis yang bersifat mewajibkan/membebankan seperti yang ditandai dengan kata perintah atau kata kutiba `ala [ar-rijaal qawamuuna `alan nisa’]. Pemahaman ini hampir sama dengan pemahaman Nasr Hamid Abu Zayd, seorang ulama Mesir, yang mengkategorikan ayat ini sebagai ayat deskriptif, bukan perskriptif; atau hampir sama dengan pemahaman Kiayi Husein Muhammad yang mengkategorikan ayat ini sebagai ayat informatif, bukan normatif. Hal ini dapat diterima karena tidak semua ayat Al-Qur’an berisi kewajiban atau larangan, melainkan juga banyak terdapat kisah yang bisa dijadikan pelajaran, dengan tidak mesti melakukan hal yang secara literal sama, melainkan secara substantive sejalan dengan semangat Islam yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan kesetaraan.

Bukti bahwa Al-Qur’an menjunjung tinggi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dapat terlihat dari ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini:

  1. QS 4: 1 tentang penciptaan manusia pertama yang tercipta dari satu bahan yang sama, yaitu dari tanah; sementara manusia lainnya kecuali Nabi Isa diciptakan dari percampuran sperma dan indung telur. Karena diciptakan dari bahan yang semua, sehingga tidak ada dasar untuk mengklaim bahwa laki-laki lebih unggul dari perempuan.
  2.  Keunggulan manusia di mata Allah hanyalah berdasarkan atas ketaqwaannya (sesuatu yang harus diusahakan), bukan atas dasar warna kulit, bangsa atau jenis kelamin, seperti yang dinyatakan dalam QS 49: 13.
  3. Keadilan Allah yang tidak mendiskriminasi jenis kelamin perempuan tampak jelas dalam QS 4: 124 berikut bahwa siapa pun yang berbuat baik, baik berjenis kelamin laki-laki ataupun perempuan, sedang ia beriman, maka mereka akan masuk surga dan tidak akan didzalimi sedikit pun. Ayat ini senada dengan QS 16: 97 bahwa Allah akan memberi ganjaran sebaik-baiknya kepada yang beramal shalih dan beriman baik berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.
  4. Kesetaraan/kemitraan antara laki-laki dan perempuan juga tergambar dalam QS 9: 71 dan QS 2: 187. ****(Dra. Nina Nurmila, MA, PhD)

*Dra. Nina Nurmila adalah Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung

No comments.

Leave a Reply