Versi Bahasa | English Version

Bersama Perempuan: Laki-laki dan Perempuan Bergabung

Bersama Perempuan
Laki-laki dan perempuan bergabung
saling menguatkan
menghimpun dukungan
menghapus kekerasan terhadap perempuan

Besama Perempuan menjadi tema yang diangkat dalam ulang tahun Yayasan Pulih yang ke-10. Dalam rangkaian ulang tahun tersebut Yayasan Pulih juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam Program “BerSaMa Perempuan” sebuah program untuk mengajak laki-laki dan perempuan bergabung bersama untuk saling menguatkan. “Bersama Perempuan” merupakan wadah bagi masyarakat luas untuk membangun kerelawanan, kerjasama dan jaringan, serta menggalang dana untuk menghapus kekerasan berbasis gender. Program ini diluncurkan dalam rangkaian ulang tahunnya yang ke-10 yang dilaksanakan di Gallery Saddha, Plaza FX, 5 September 2012

Kekerasan terhadap perempuan hadir dalam berbagai bentuk seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kekerasan di masa pacaran, pelecehan seksual dan kekerasan seksual, hingga kekerasan pada buruh migrant dan perdagangan perempuan dan anak. Perempuan sulit untuk memperoleh dukungan karena sikap masyarakat dan penegak hukum yang masih sering mempersalahkan korban, serta belum memadainya layanan dan program prevensi maupun intervensi.

Untuk itu diperlukan komitmen yang besar, strategi dan intervensi yang komprehensif, advokasi kebijakan yang terus menerus, dan kerjasama yang meluas dengan banyak pihak untuk menghapus kekerasan berbasis gender. Pada saat yang sama, lembaga layanan menhalami kendala kerja karena kesulitan mengalang dana, sangat minimnya SDM, serta tiadanya dukungan bagi kerja kemanusiaan. Untuk itu selama 10 tahun ini Yayasan pulih hadir untuk memberi penguatan kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam kesempatan tersebut juga diluncurkan sebuah buku berjudul “Merawat Kemanusian”. Buku yang ditulis oleh Kristi Puwandari ini bercerita tentang perjalanan relawan-relawan pulih dalam mendampingi korban, dimana ada saat-saat tertentu relawan merasa gagal ketika korban yang didampinginya tidak bisa bangkit. Pada saat pendamping berada pada titik seperti itulah, maka dibutuhkan untuk keluar sejenak dari rutinitas dan kemudian kembali lagi. Hal tersebut dibutuhkan untuk memberikan energy baru bagi pendamping, karena menurutnya kerja kemanusiaan tidak mengenal lelah dan akan terus menerus berlangsung, maka diperlukan saat untuk menarik diri sejenak.

Dalam kesempatan tersebut hadir juga Karlina Supeli dan Irwanto, serta moderator Ninik L. Karim untuk berbagi pengalamannya seputar kerja-kerja kemanusiaan dan pengalamannya ketika dalam keadaan terpuruk dan harus dapat bangkit kembali. Irwanto adalah seorang Psikolog yang sejak tahun 2003 yang lalu harus duduk di kursi roda karena sebuah malpraktek dari sebuah rumah sakit terkenal. Perasaan terpuruk itulah karena kemudian tergantung kepada orang lain sempat dirasakannya. Perasaan “why me” terus menghantuinya. Namun ia beruntung dikeliling oleh orang-orang yang sangat mencintainya dan dia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya tersebut dan tetap berkarya walau harus berada di kursi roda.

Harapan dengan mudah menguap ditelan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, sekaligus ketidakberdayaan ketika seseorang harus menerima kenyataan bahwa kondisi tubuh mereka tidak mungkin kembali seperti semula. Embel-embel profesional, segala teori yang dikuasai, dan kekuatan hati seperti apa pun sempat menjadi tak banyak berarti ketika orang berada pada posisi mengalami. Itulah yang pernah dialami oleh Irwanto

Demikian juga dengan Karlina Supeli, mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa Dosen Filsafat di STF Driyakara ini mengidap kanker dan terus melakukan kemoterapi. Sama halnya dengan Irwanto, pada saat dokter memvonis ia menderita kanker, perasaan terpuruk itu juga muncul. Namun ia terus ingin berkarya, tidak menganggap apa yang dialaminya sebagai halangan.

Apa yang disampaikan oleh Karlina maupun Irwanto, mencoba mengajak peserta yang hadir untuk terus berkarya dalam keterbatasan yang ada. Demikian juga bagi pendamping maupun korban, karena dengan adanya kemauan untuk bangkit lagi, maka dapat menjalani kehidupan kembali dan terus berkarya untuk kerja-kerja kemanusiaan.****(JK)

No comments.

Leave a Reply