Versi Bahasa | English Version

Kisah Perempuan Korban Kekerasan yang Sukses

TEMPO.CO, Jakarta – Pada daerah konflik atau situasi perang, perempuan kerap menjadi sasaran kekerasan. Misalnya dengan menjadikan perempuan budak seks untuk memenuhi hasrat seksual tentara atau memerkosa mereka.

Di Indonesia, kekerasan perempuan terjadi kala konflik Aceh. Satu perempuan yang menjadi korban adalah Yusdarita. Pada masa konflik Aceh memuncak, perempuan 38 tahun ini kerap mengalami intimidasi dan kekerasan tak langsung.

“Saya diculik orang tak dikenal pada Februari 2000,” kata Yusdarita.

Tak hanya itu, suami serta adik Yudastira juga dianiaya. Harta mereka dirampok, dan rumahnya dirusak.

Konflik Aceh yang bercampur konflik etnis di dataran tengah Aceh memperparah situasi keluarga Yusdarita. Dia etnis Aceh campur Gayo, suaminya etnis Jawa. Saat gelombang pengungsian terjadi akibat kontak senjata dan kecurigaan antaretnis, Yus dan suaminya ikut mengungsi ke Bireuen. Dari sana mereka ke Pidie. Dan terakhir ke Banda Aceh.

“Kebun kopi dan pekerjaan saya sebagai kader Posyandu terbengkalai,” kata dia.

Di pengungsian, Yusdarita tak berdiam diri. Sendirian, ia bolak-balik Banda Aceh-Bener Meriah, yang berjarak 350 kilometer. Di sana, bersama beberapa ibu, Yus menginisiasi berdirinya koperasi. Mereka juga membuat kue untuk menghidupi para perempuan bernasib sama.

Dia kemudian menjadi Relawan Perempuan untuk Kekerasan (RPuK) yang berbasis di Aceh. Tujuannya, memulihkan trauma perempuan akibat tindak kekerasan kala konflik.
Kini kebun kopi Yus sudah kembali berproduksi. Dan kesibukannya sebagai pengurus koperasi berlanjut setelah berbadan hukum. Tapi sindiran tetap ada dari para tetangga. Kerap dia disapa »ibu gender” atau dibilang murtad kepada keluarga.

»Tapi, itu dulu. Sekarang saya sudah berhasil membuktikan mampu membela hak kaum perempuan.”

Pada 2010, Yusdarita masuk ke daftar nomine Perempuan Aceh Award 2010. Ia juga menjadi nomine perdamaian tingkat regional untuk N-Peace Network di Thailand pada Oktober 2011. Dan kampungnya diakui sebagai tempat percontohan dalam urusan perlindungan perempuan dan ditiru oleh banyak desa di Kabupaten Bener Meriah.*****(KORAN TEMPO | CORNILA DESYANA)

No comments.

Leave a Reply