Versi Bahasa | English Version

“Anak Muda, Yuk Kita Berkarya!”

WhatsApp Image 2017-03-03 at 13.31.13

Dok: Koleksi Pribadi Mentari Novel

Kalyanamitra, Jakarta – Seruan tersebut disuarakan oleh Mentari Novel, Duta Stop Perkawinan Anak untuk mengajak anak muda lebih banyak menciptakan karya dari pada menikah muda. Menurut Mentari, anak muda harus dibangkitkan semangatnya untuk memiliki cita-cita dan dimotivasi agar berusaha mencapai cita-citanya tersebut.

“Ketika anak sudah ada keinginan atau cita-cita maka akan fokusnya ke situ. Mereka jadi punya motivasi. Sehingga ketika dia ditekan harus menikah, dia jadi punya sikap sendiri, dan ketika punya sikap sendiri jadi lebih mudah untuk memperjuangkannya apalagi dia punya hal yang ingin diperjuangkan,” ujar Top 7 Miss Indonesia 2015 ini kepada Kalyanamitra.

Perempuan kelahiran Sukabumi, 14 Maret 1993 yang bernama lengkap Mentari Gantina Putri ini didaulat menjadi Duta Stop Perkawinan Anak oleh Yayasan Kalyanamitra dan OXFAM pada 28 November 2016 silam. Ia dipilih karena memiliki segudang prestasi dan aktivitasnya di media sosial yang kerap menyebarkan pesan-pesan positif kepada para pengikutnya yang sebagian besar anak muda.

Mentari sendiri tidak asing dengan isu perkawinan anak karena juga banyak terjadi di daerah kelahirannya, yaitu Sukabumi. Ia banyak mendengar dan melihat tetangga-tetangga di kampungnya banyak yang telah menikah di usia SD dan SMP. Oleh karena itu, ia senang ditunjuk sebagai Duta Stop Perkawinan Anak karena ia bisa lebih leluasa untuk menginspirasi anak-anak muda agar menunda menikah muda. Ia juga senang dengan perannya sebagai duta tersebut karena bisa lebih banyak belajar dan bersinergi dengan orang-orang yang memang spesialisasi atau ahli dalam isu perkawinan anak.

“Pas dihubungin dan diajak jadi duta aku senang dan mau banget. Aku juga punya keinginan melakukan sesuatu karena melihat isu ini juga di tetangga-tetangga aku, tapi kan tidak bisa kalau sendiri. Dan untuk isu-isu yang positif dan untuk society aku pasti susah buat nolak karena memang senang. Ekspektasi aku dengan menjadi duta bisa ikut bantu dan terjun langsung untuk sosialisasi dan menginspirasi ke masyarakat terutama anak-anak muda,” ujar perempuan yang memang senang berkegiatan di bidang seni, sosial, dan kepemudaan ini.

Mentari sendiri berkeyakinan bahwa setiap anak muda pasti memiliki potensi, oleh karena itu melalui perannya sebagai Duta Stop Perkawinan Anak, ia ingin memotivasi anak muda untuk terus menggali potensi dan memperjuangkan cita-citanya sesulit apapun. Menurutnya, menikah di usia anak bukan merupakan pilihan bijak karena di samping akan memupus cita-cita di usia muda, banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk memutuskan menikah.

Lulusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia ini berpendapat bahwa dalam pernikahan diperlukan kematangan dalam menguasai emosi, kompromi, serta tanggung jawab yang besar. Apalagi ketika memutuskan untuk memiliki anak maka dibutuhkan pemikiran yang lebih panjang karena pendidikan orang tua akan menentukan karakter anak bangsa ke depannya.

“Menurut aku, anak-anak itu labil, belum bisa menguasai emosi. Aku bisa ngomong labil karena juga melewati itu. Sehingga untuk menikah harus beneran matang dan meningkatkan kualitas diri dulu sampai kita benar-benar siap menikah dan punya anak. Karena aku berpikir tidak ingin melahirkan anak bangsa yang tidak baik karakternya karena kita tidak bisa menguasai emosi,” ujarnya.

Perkawinan anak menurutnya juga menghambat anak, terutama anak perempuan dalam mengeksplorasi potensi dirinya karena akan disibukkan dengan mengurus suami dan anak. Makanya ia sadar betul bahwa pendidikan sangat penting untuk mencegah perkawinan anak. Karena dengan pendidikan, anak punya banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Di samping itu, pendidikan dari orang tua ke anak juga penting untuk menanamkan nilai-nilai disiplin sehingga ketika dewasa dan bisa menentukan pilihan sendiri dapat bertanggung jawab terhadap pilihannya dan tidak melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri. Sehingga ia tidak bisa membayangkan ketika di usia yang masih kecil tapi sudah menikah, maka kehidupannya akan sangat terbatas pada urusan rumah tangga

Indonesia sendiri saat ini berada diurutan ke-2 tertinggi di ASEAN untuk perkawinan anak. Menanggapi hal tersebut, Runner Up Social Media Sensation Trans TV 2016 ini mengatakan bahwa dibutuhkan proses yang panjang untuk menyelesaikan masalah perkawinan anak di Indonesia karena menyangkut juga masalah mindset, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dll. Oleh karena itu menurutnya sinergi pihak-pihak terkait dalam bidang dan perannya masing-masing sangat diperlukan. Walaupun dalam realitanya akan menemui kesulitan, tapi harus dimulai dan konsisten.

Mentari sendiri akan berperan banyak dalam kampanye dan promosi “Stop Perkawinan Anak” melalui media sosial yang ia miliki seperti Youtube, Twitter, dan Instagram. Ia memang menggunakan kanal-kanal tersebut untuk menunjukan karya-karyanya serta aktivitasnya. Sehingga dengan peran barunya saat ini sebagai Duta Stop Perkawinan Anak, ia dapat memaksimalkan media sosialnya untuk mengajak dan menginspirasi teman-teman dan para penggemarnya untuk menunjukan potensi dan karya-karyanya dari pada menikah di usia muda.***

 

No comments.

Leave a Reply