Edisi I No.1 April 2004
 
daftar isi
SAPAAN
SURAT PEMBACA
FOKUS UTAMA
OPINI
SOSOK
ADVOKASI 1 2
KESPRO 1 2 3
PUISI KITA 1 2
WARTA 1 2 3 4 5 6
KRONIK
PUSTAKARIA
BEDAH BUKU 1 2 3
SISIPAN 1 2 3
Mengenal Jember dari Dekat 
Oleh Listyowati *) 


Jember, salah satu Kabupaten di Jawa Timur. Kehidupan kotanya tenang dan tampak asri dengan aneka pepohonan yang tumbuh di pinggir-pinggir jalan. Penduduk kota Jember ini cukup padat. Urutan ketiga terbesar jumlah penduduknya di provinsi Jawa Timur setelah Surabaya dan Malang, yakni 2.187.657 jiwa, berdasarkan sendus tahun 2000. Bangunan-bangunan gedungnya tidak tergolong megah, seperti kota-kota besar lainnya, tapi sederhana. Keramahan masyarakatnya menjadi daya tarik bagi orang yang datang ke daerah ini.

Tembakau dan kopi adalah hasil bumi yang cukup besar dari Jember. Tenaga kerja Jember banyak terserap dalam sektor perkebunan dan pertanian. Pertanian yang giat-giatnya dikembangkan masyarakat Jember saat ini yaitu pertanian dengan menggunakan pupuk organik. Beras organic kini sedang banyak didistribusikan sampai keluar kota Jember sendiri, meskipun harus bersaing dengan beras anorganik. Masalah para petani bukan hanya soal distribusi hasil pertanian, tetapi juga masalah kepemilikan tanah.

SD Inpers merupakan organisasi yang melakukan kegiatan membantu masyarakat untuk melakukan advokasi. Advokasi terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di tengah-tengah mereka, seperti masalah tanah, distribusi hasil-hasil pertanian dan perkebunan. Dalam perkembangannya, kini banyak lahan-lahan perkebunan dan pertanian yang terancam dijadikan lahan pertambangan oleh pemerintah. Para penduduk desa merasakan ancam penggusuran tanah tersebut.

Saat di Desa Curah Lele...

Malam hari sekitar jam 7, kami memasuki desa ini. Desa ini tenang dan sepi keadaannya. Jalanan sudah diaspal tapi tak terlalu bagus, berlubang di beberapa tempat. Malam itu, kami jarang bertemu orang di tengah jalan. Demikian pula mobil yang lewat. Ada beberapa sepeda motor yang berpapasan dengan kami. Sepertinya, masyarakat sudah bersiap-siap untuk istirahat.

Di desa itu, kami bertemu seorang perempuan yang aktif sebagai kader SD Inpers. Suaminya juga aktif dalam organisasi petani. Sebut saja perempuan itu, Lastri. Ia seorang ibu rumah tangga, yang sesekali waktu ketika panen tembakau, bekerja sebagai buruh. Ia pun bekerja memilih biji-biji kopi. Upah yang diterimanya tergolong rendah, yaitu antara Rp 5000 dan Rp 8000 per hari.

Lastri sebenarnya berkeinginan besar untuk memperjuangkan upah buruh perempuan ini dengan cara mengorganisir teman-temannya melakukan protes terhadap majikannya. Tetapi, usaha ini banyak yang tidak mendukung dan itu justru datang dari para buruh sendiri. Mereka mengatakan: " Ya, sudahlah…daripada tidak bekerja!"

Lastri sempat marah dan kecewa pada teman-temannya, karena sikap mereka yang pasrah itu. Namun, Lastri berusaha untuk mengerti dan berharap bahwa suatu hari nanti dia dapat membantu teman-temannya.

Sebagai istri, Lastri mengerjakan semua pekerjaan rumahnya: memasak, mencuci, menyetrika dan membersihkan rumah. Sering, menurut Lastri, suaminya membantu pekerjaan itu. Lastri termasuk perempuan yang beruntung, karena suaminya mau membantu pekerjaan rumahnya dan memberi kebebasan padanya untuk berorganisasi. Suaminya, sebagai seorang guru di sebuah sekolah kejar paket, ia juga aktivis organisasi petani di desanya. Suaminya aktif melakukan advokasi untuk para petani, terutama soal kepemilikan tanah. Itu dikerjakan bersama-sama dengan SD Inpers. Lastri dan suaminya termasuk kader SD Inpers di Desa Curah Lele. Rumah mereka sering menjadi posko atau tempat berkumpulnya masyarakat desa membicarakan berbagai soal yang terjadi di desa mereka.

Pagi harinya kami berkumpul dengan Lastri, suaminya dan aktivis SD Inpers sambil minum kopi di teras rumah tanpa beralaskan tikar. Suasana terasa akrab ditambah dengan kehadiran beberapa orang tetangga Lastri. Melihat kedatangan mereka, Lastri langsung masuk rumah dan keluar dengan beberapa gelas kopi di nampannya. Salah satu dari bapak-bapak yang ada, yaitu Pak Sardi. Beliau menceritakan bahwa dia baru datang dari Kalimantan dengan menggunakan kapal laut. Kami menanyakan: "Apakah bapak tinggal di sana?" 

Pak Sardi menjelaskan bahwa dia dan keluarganya bertransmigrasi ke Kalimantan. Ia kadang-kadang pulang kampung melihat sanak-saudaranya di sini. Masih ada seorang anaknya tinggal di kampung itu. Tapi, karena beaya transportasi ke kampungnya cukup mahal, maka Pak Sardi jarang pulang kampung. Pak sardi sangat antusias ketika menceritakan keadaan di sana. Di sana mereka sekeluarga mempunyai lahan yang dikelola menjadi kebun palawija. Istrinya sangat betah tinggal di sana dibandingkan di kampungnya sendiri, yang susah mencari penghasilan. Menurut suami Lastri, beberapa penduduk Desa Curah Lele yang melakukan transmigrasi ke Kalimantan.

Suami Lastri menceritakan bahwa penduduk Desa Curah Lele cukup kompak ketika harus melakukan suatu kegiatan untuk kepentingan bersama, seperti mengadakan tuntutan masalah kepemilikan tanah ke pemerintah daerah. Kekompakan itu sampai sekarang masih ada di antara penduduk.

Di belakang rumah Lastri terdapat hamparan sawah milik masyarakat desa. Ditengah-tengah sawah, ada bangunan berbentuk panggung dengan atap rumbia yang ternyata adalah gudang tembakau. Gudang itu biasa dipakai oleh PTP ketika panen tembakau tiba. Lahan di atas gudang tersebut disewa oleh PTP dari masyarakat desa.

Ada yang menarik di desa tersebut. Meskipun desa itu jauh dari pusat kota, namun masyarakat mampu menggunakan alat komunikasi canggih yaitu hand phone (Hp). Sebagian masyarakat sudah memilikinya kecuali pemilikan barang-barang elektronik juga tinggi. Televisi yang mereka miliki cukup bagus dengan ukuran antara 14-21 inchi. Demikian pula dengan kepimilikan sepeda motor (mereknya pun tergolong terbaru, seperti Smash Suzuki, dll.) sebagai kendaraan pribadi. Ternyata kehidupan agraris masyarakat Desa Curah Lele yang jauh dari pusat kota tidak menjadi penghalang untuk masuknya arus informasi dan teknologi terkini. Setelah agak siang, kami pamitan melanjutkan perjalanan ke Desa Curah Nongko. Ketika kami pamit, semua keluarga Lastri ikut melepas kepergian kami dengan penuh haru.

Kemudian kami di Desa Curah Nongko...

Jarak antara Desa Curah Lele dan Desa Curah Nongko cukup jauh. Dengan menggunakan sepeda motor kurang lebih memakan waktu satu setengah jam. Dalam perjalanan, kami melewati beberapa desa. Desa-desa itu lingkungannya terlihat rapi dan bersih. Pagar-pagarnya rata-rata dicat putih bersih dengan pepohonan yang berwarna hijau. Kami melewati perkebunan cocoa (coklat) milik PTP yang sangat luas. Siang itu, perkebunan terasa sepi. Kami jarang bertemu dengan penduduk atau pekerja di perkebunan. Menurut keterangan aktivis SD Inpres, buruhnya bekerja pada pagi hari. Siang hari mereka pergunakan untuk istirahat dan mencari kayu bakar. Itu dikarenakan pemetikan buah cocoa hanya dilakukan pagi hari, ketika buah masih baru dan segar. Siang harinya cocoa diolah di pabrik yang letaknya jauh dari perkebunan itu.

Kami melintasi perkebunan karet. Perkebunan karet ini sebagian milik PTP dan sisanya milik penduduk. Perkebunan milik penduduk ini dulu membutuhkan perjuangan yang cukup berat dan lama, karena semua perkebunan akan dijadikan milik PTP. Namun, sebagian penduduk melakukan protes keras dan demo. Penduduk melakukan penjagaan yang sangat ketat terhadap perkebunan milik mereka. Pada sekitar tahun 90-an, terjadi perseteruan antara PTP dengan penduduk desa setempat. Semangat dan perjuangan penduduk yang sangat kuat membuahkan hasil. Sebagian perkebunan tidak menjadi milik PTP. Sampai kini terlihat batas antara lahan perkebunan milik PTP dan penduduk.

Desa Curah Nongko berbatasan dengan perkebunan karet. Di pintu gerbang desa ini terpancang sebuah gapura dengan tulisan "SELAMAT DATANG". Cuaca siang itu cukup panas, karena kurangnya pepohonan rindang di desa tersebut. Di desa Curah Nongko, kami bertemu dengan kader-kader SD Inpres.

Siang itu tidak terlihat pekerja di perkebunan. Mereka mengambil getah pada pagi dini hari, kemudian disetorkan ke mandor untuk diolah. Di tengah-tengah perkebunan, terlihat kendaraan dan sebuah tangga yang menghubungkannya dengan sebuah bangunan panggung yang cukup tinggi. Juga terdengar suara mesin. Ternyata, para pekerja sedang mengolah getah karet yang dikumpulkan para pekerja siap dibawa ke pabrik untuk dijadikan barang jadi.

*) Staf Program Advokasi Kalyanamitra
© 2004 Kalyanamitra