Kritik Bahasa dalam Relasi Gender
oleh David Graddol dan Joan Swann
Dalam teori komunikasi, kata dan kalimat tidak memiliki makna. Manusialah yang memberikan arti dan memaknainya. Begitu pun dengan bahasa, yang sebenarnya merupakan sebuah entitas. Segala realitas dan fenomena yang kita lihat dan rasakan adalah bahasa. Namun, dalam penuturan dan penggunaannya, berbeda antara laki-laki dan perempuan. Mengapa ini terjadi? Apakah perbedaan itu persoalan? Apakah benar bahasa bersifat seksis? Sadarkah kita selama ini terlibat dalam kelaliman bahasa yang menceraikan gender dalam masyarakat tertentu? Berbagai hal itu adalah isu yang diangkat dalam buku ini.
Buku ini berusaha memaparkan apa yang mudah dipahami mengenai hubungan antara bahasa dan gender. Itu juga dalam kaitan dengan isu lokal maupun teoritis. Dalam pembahasannya diperlihatkan bagaimana sejumlah gagasan penting bidang linguistik, psikologi, dan pemikiran feminisme memberikan pencerahan terhadap peran bahasa dalam menata wilayah-wilayah gender. Menurut penulisnya, kata "voice" dalam judul bukunya di samping berarti suara pembicaraan secara literal (harfiah), juga berarti suara secara figurative ( kias), yaitu kumpulan pendapat dan sikap yang dipegang oleh mereka yang eksis dalam bidang tersebut.
Relasi bahas gender yang dikupas dalam buku ini dibagi menjadi tujuh bagian, yaitu:
- Bab 1; berisi pendahuluan yang menyajikan pengantar tentang kajian bahasa dan gender, sifat bahasa, gender dan masyarakat yang di-gender-kan, hubungan antara bahasa dan gender.
- Bab 2; membahas semiotika dan beberapa argumen yang menetapkan garis hubungan antara suara laki-laki dan perempuan dan pengalaman hidup mereka yang berbeda, misalnya antara nada suara seorang laki-laki dan kesempatan kerja yang lebih luas, desahan suara perempuan dan memperlakukan perempuan sebagai objek seksual.
- Bab 3; mengamati penelitian-penelitian antropologis awal mengenai perbedaan bahasa laki-laki dan perempuan yang banyak diantaranya besifat kategoris, sebagian bentuk digunakan secara eksklusif oleh kaum lelaki dan yang lainnya secara eksklusif oleh kaum perempuan.
- Bab 4; mengupas bagaimana perbedaan antara gaya percakapan laki-laki dan perempuan. Ciri-ciri percakapan tradisional dipertimbangkan secara terpisah, dengan variable-variabel linguistik dan interpretasi yang berbeda-beda tentang penerapan yang sering terjadi.
- Bab 5; memaparkan ketidaksetaraan gender dan ketidaksetaraan linguistik, dengan mengeksplorasi bagaimana laki-laki dan perempuan secara konvensional direpresentasikan dalam bahasa.
- Bab 6; menunjukkan bagaimana bahasa memainkan perannya dalam mereproduksi dan mengkonstruksi ideologi-ideologi yang dianggap opresif terhadap perempuan.
- Bab 7; beberapa contoh studi kasus tentang relasi bahasa gender
Analisis David Graddol dan Joan Swann ini memperlihatkan fenomena perubahan persepsi dan tafsir bahasa yang digunakan oleh kaum perempuan mulai masa tradisional hingga modern. Buku ini menimbulkan kontrover yang sempat mengagumkan kaum feminis, psikolog dan ahli bahasa sepanjang dekade belakangan ini. (SN)
Judul Asli : Gender Voices
Judul : Gender Voices, Telaah Kritis Relasi Bahasa Gender
Penulis : David Graddol dan Joan Swann
Penyunting : Ahmad Najib AR
Penerbit : Yogyakarta : Pedati, 2003
Kolasi : xvii, 335p.
Koleksi Kalyanamitra: W304.3 GRA ge [L1]
|