Edisi I No.1 April 2004
 
daftar isi
SAPAAN
SURAT PEMBACA
FOKUS UTAMA
OPINI
SOSOK
ADVOKASI 1 2
KESPRO 1 2 3
PUISI KITA 1 2
WARTA 1 2 3 4 5 6
KRONIK
PUSTAKARIA
BEDAH BUKU 1 2 3
SISIPAN 1 2 3
Para Pesohor di Ranah Politik
Oleh Marissa Haque Fawzi *) 


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), judul yang dipakai di atas mengandung makna yang masih dapat dibedah. Kata "para" mengacu kepada suatu kelompok. Pesohor, asal katanya "sohor" bermakna termashur, ternama, terkenal. Ranah bermakna unsur atau elemen yang dibatasi, bidang, disiplin. Sementara politik mempunyai makna ilmu pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti sistem pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan) dan politikus ialah orang yang menjalankan ilmu politik tersebut tak peduli siapapun atau latar belakang apapun (siapapun boleh menjadi politikus).

Kalau sekarang masyarakat memberikan nada minor terhadap kehadiran para "artis" (sebuah kata yang banyak disalahartikan hanya sebagai orang yang pekerjaannya muncul di muka TV dan film), tentu akan banyak yang maklum. Orang banyak yang bingung karena dilihat dari sudut apapun dua dunia tersebut tak pernah "nyambung". Bidang politik diyakini oleh masyarakat umum sebagai sebuah bangunan rumah yang "hanya" boleh diisi oleh para politikus.

Mengapa kesan minor ini muncul? Faktor-faktor apa yang membuat peringkat kehadiran para pesohor sebagai calon legislatif bekalangan ini demikian pesat, jauh melampaui periode-periode pemerintahan sebelumnya? Siapa sebenarnya yang diuntungkan oleh fenomena semacam ini? Sejuta pertanyaan menggantung dan perlu dijawab sebelum stigma negatif makin menohok keberadaan mereka, karena penulis pun merupakan salah satu dari mereka yang tengah dibicarakan itu. Sadar atau tidak, kehadiran acara-acara TV belakangan ini ibarat oksigen kedua bagi kita. Hal itu merupakan nafas kehidupan yang memenuhi rongga paru-paru kita dan sampai ke otak sebagai sesuatu yang niscaya "ada". Mereka memberikan andil yang signifikan pada dunia infotainment yang diproduksi dengan beaya minim namun sangat membius penontonnya. Bila satu episode acara tersebut hilang misalnya, akan membuat pemirsanya kehilangan sesuatu yang amat berharga. Acara-acara itu banyak mengusung para pesohor dari berbagai kelas. Ibarat candu yang membius dan bahkan menagih.

Acara-acara tersebut menjadi sebuah pelarian diri dari kondisi nyata yang terjadi di masyarakat. Lari dari kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik, pengangguran yang masih tinggi, ketidakamanan, bajir, kurang pangan, dan lainnya. Bermimpi, mumpung masih gratis dan tak kena pajak. Media betul-betul sangat berpengaruh, terutama sejak berkembangnya teknologi informasi yang membuat dunia tanpa batas. Pada era budaya pop saat ini masyarakat dunia tiba-tiba terlihat menjadi seragam. Di mana-mana kita melihat orang memakai celana jeans dengan potongan di pinggul; menindik cuping hidung; pusar kelihatan, dan sebagainya. Dari mana datangnya keseragaman ini? Tak lain dari media audio dan visual yang sekarang semakin murah harganya, mudah dan cepat aksesnya. Dan, teknologi internet menambah percepatan perkembangannya.

Apa kaitannya dengan perkembangan politik di Indonesia? Media menjadi alat pengintip dan pengkultusan masyarakat terhadap kehidupan para pesohor tersebut. Konsumerisme visual ini memiliki nama khusus yaitu "voyeurism" - apa yang nyaman bagi mata manusia (misalnya wajah ganteng dan cantik, dada bidang, kaki mulus, dan sebagainya). Dalam bahasa popular Indonesia disebut "layak jual". Dengan obsesi ngintip dan ngegosip membuat masyarakat tidak saja merambah wilayah personal subjek, tapi juga berkaitan dengan kegiatan para subjek di tatanan sosial. Euforia ini tampak seperti perayaan massal. Bagi masyarakat, para pesohor tetaplah magnet yang berkekuatan maha dahsyat daya tariknya, tak peduli sedang apa atau bidang apa yang dilakoni. Yang penting selalu ada bahan untuk ngerumpi dengan tetangga samping rumah.

Siapa yang diuntungkan oleh voyeurisme itu? Tentu saja orang-orang yang berada di belakang tersedianya program tersebut; para produser dan pemilik TV. Bagaimana tidak, acara yang tidak bermuatan idealisme itu mampu mendongkrak rating pada jam tayang yang tidak menarik. Suasana kemuakan menguat di kalangan pemirsa. Dari hiburan merosot menjadi sekadar ngegosip. Akan tetapi, kondisi kekinian yang terjadi adalah bahwa jurnalisme selama ini kita pahami sebagai civic journalism perlahan memudar dan menghasilkan apa yang disepakati bersama masyarakat sebagai voyeuristic journalism. Dan media di Indonesia, baik cetak maupun elektronik tak luput dari gejala yang sedang mendunia akibat efek globalisasi dan dunia tanpa batas kini.

Gejala voyeuristic journalism ini dimulai di Amerika Serikat ketika Hugh Heffner mempunyai “ide berlian” seiring dengan frustasi nasional akibat perang Vietnam dan perang dingin dengan Rusia. Ditemukan pil kontrasepsi, terjadi women liberation dan menjual libido melalui media cetak di awal tahun 1960-an. Dimulai dengan jumlah tiras yang kecil, majalah Playboy milik Hugh Heffner ini menemukan pasarnya di Amerika Serikat. Permintaan pasar yang membludak. Majalah ini mengekspos sejumlah bintang papan atas mulai dari Pamela Anderson sampai Demi Moore. Tanpa terasa, di bawah sadar, kita semua mengenal tiga resep lakunya film dengan pendekatan ala Hollywood, yaitu: excitement, crazyness, dan visual sexuality. Politik, excitement, pesohor dan budaya pop merupakan 4 serangkai yang tak dapat terpisahkan bila kita kaitkan dengan isu-isu politik yang menjadi santapan pembicaraan kita belakangan ini. Indonesia yang masih menjunjung tinggi etika moral dengan penduduk mayoritas Muslim, tidak akan pernah memperkenankan seorang bintang film porno dan penari bugil menjadi anggota legislatif, seperti yang terjadi di Italia beberapa tahun lalu. Bahkan seorang Inul pun—sebagai salah satu buah dari budaya pop—cukup “tahu diri” dengan hanya ingin meramaikan Pemilu nanti sebagai pemberi suara dari 3 partai besar: PDI-P, GOLKAR, dan PKB.

Indonesia dengan Pemilunya di tahun 2004 ini menjadi titik-balik bagi penyiapan masa depannya. Untuk, demi dan dari rakyat adalah isu besar yang dijunjung oleh semua kontestan. Rakyat adalah pemeran utamanya yang dimaknai dengan bertemunya orang-orang yang memiliki ide, perasaan, aspirasi, yang dikembangkan menjadi komitmen yang sama bagi penyadaran besar akan persoalan bangsa Indonesia. Menurut Nurcholis Majid (Indonesia Kita, 2003), target idel pada tahun 2015-2025, Indonesia akan memasuki the golden era dalam bentuk demographic bonus, yaitu satu orang produktif akan menanggung satu atau dua orang yang tidak produktif lainnya. Masa ini ialah masa yang biasanya tidak terjadi dua kali dalam sejarah dunia. Mengingat pentingnya masa ini, maka tidak dibenarkan kekuasaan dikejar demi kekuasaan tersebut. Kekuasaan dikejar demi mewujudkan cita-cita besar bangsa. Kita semua harus berpikir dan berusaha menyelamatkan dan membangun Indonesia. Kita harus jeli melihat peluang dan potensi yang ada. Jika kita lemah dan gagal, maka kita akan terpuruk dan tercecer menjadi bangsa yang selamanya terkebelakang. Dan keterlibatan para pesohor tentunya tidak lepas dari koridor ini—membangun masa depan bangsa dan negara Indonesia dengan segala kesadaran dan kemampuan yang ada pada mereka.

Di Barat, kita tahu minimal ada 3 aktris dan model perempuan yang sampai usia gaeknya pun masih digandrungi orang. Beberapa di antaranya: Christy Turlington, Elizabeth Hurley, Angelica Jolley. Christy ketika tidak menjadi supermodel lagi ia justru melanjutkan pendidikan pasca sarjananya di New York University. Ia juga mengembangkan sebuah bidang usaha produk peralatan dan busana untuk yoga dengan label Nuala. Kemudian ia kembangkan produk kecantikan yang mempergunakan ramuan tradisional India berlabel Sundari. Ia merupakan contoh sukses aktris tua. Angelica memiliki kegiatan sosial tersendiri yaitu kecintaannya terhadap kelompok marjinal, anak-anak korban pengungsian, yang membuatnya dilirik oleh PBB untuk menjadi duta UNICEF. Aktor ganteng Richard Gere merupakan pendukung perjuangan kedaulatan masyarakat Tibet. Arnold Schwarzeneger, sang gubernur baru di California.

Mengacu pada kejadian itu tampak bahwa tiap orang punya potensi untuk menjadi positif, baik, dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia lain.

Bagaimana di Indonesia? Kurang lebih demikian kelihatannya. Bisa jadi karena pengaruh globalisasi media dengan budaya pop. Budaya popular berkembang melalui acara hiburan, pakaian, makanan, gaya hidup dan musik, akan menjadi inspirasi kepada penduduk negara di dunia ketiga. Di Indonesia, dalam kaitan politik, beberapa nama yang muncul ke permukaan antara lain: Nurul Arifin dan Luhut Sitompul dari partai GOLKAR; Dede Yusuf dan Paquita Wijaya dari partai PAN; Rieke Dyah Pitaloka dan Gusti Randa dari partai PKB, dan lainnya. Kalau mereka ingin merebut hati rakyat, mereka harus berkecimpung di bidang apapun dan harus mengetahui persis apa yang dekat dan sedang menjadi aspirasi masyarakat luas.

Bilamana semua kemungkinan dapat muncul ke permukaan dikaitkan dengan suasana politik yang terjadi belakangan ini, apakah masyarakat Indonesia dapat mempercayai kemampuan para pesohor yang sekarang sedang berjajar sebagai calon legislatif? Kemungkinannya adalah 50 persen berbanding 50 persen. Di masyarakat juga terjadi 2 kondisi yaitu masyarakat yang berpikir dengan cara Machiavelli dan yang berpikir secara spiritual. Cara yang paling baik dalam mendapatkan kekuasaan adalah melakukan apa saja demi kepentingannya. Karena itu, kecenderungan buruk manusia harus ditekan. Berseberangan dengan pandangan itu, para spiritualis yakin bahwa pada dasarnya tiap orang itu baik. Diperlukan tatanan yang ajeg yang dapat mengontrol semua langkah dalam mencapai kebajikan yang dicita-citakan. Makna hidup ini bermula dari sebuah visi kehidupan, harapan, dan wujud alasan mengapa seseorang harus tetap bertahan hidup.

Beberapa aksi positif program para caleg pesohor ini banyak yang sudah di depan mata. Mereka menggiring program yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Seperti misalnya, Nurul Arifin dengan aksi isu HIV AIDS, kuota 30 persen di parlemen dan kekerasan dalam rumah tangga; Rieke dengan aksi isu penegakan hukum, pendidikan yang membuka pikiran dan kesetaraan gender. Penulis sendiri akan mengusung isu pemberdayaan seni dan budaya lebih optimal sebagai ujung tombak diplomasi dunia, mengurangi dampak kerusakan lingkungan terhadap kekerasan gender, pemberdayaan sumber daya perempuan dan anak secara umum khususnya mendorong pendidikan anak perempuan yang masih terasa sangat dianaktirikan.

Para pesohor adalah manusia biasa dengan segala permasalahannya. Mungkin juga dari kami ada yang menderita neurosis dan butuh pemenuhan dasar sesuai dengan teori Maslow. Para pesohor yang sekarang sedang berjejer menjadi caleg diyakini masih memiliki penghasilan memadai yang melebihi sekadar gaji pokok dan tunjangan yang akan diterima sebagai anggota legislatif negara di kantor Senayan.

Dari beberapa nama yang sering muncul di media, rata-rata berusia 35 tahun ke atas. Kebutuhan dicintai-mencintai, sandang, pangan, dan papan telah selesai. Masalah aktualisasi juga bukan masalah karena pernah dan masih popular. Masih ada kebutuhan transcendental yang bersentuhan dengan kepekaan sosial yang tinggi. Berbarengan dengan sistem Pemilu yang terbuka sekarang membuat kemungkinan partisipasi bagi siapa pun di ranah politik menjadi terbuka. Kompetisinya bebas, langsung, sangat lokal. Berarti, siapa yang paling popular dan dikenal masyarakat di tempat pemilihannya maka ia akan kelihatan lebih dulu. Memang sangat mungkin pesohor ini akan menang dan melenggang secara lebih leluasa dibandingkan para kandidat umumnya.

Sebenarnya, menjadi caleg "biasa" tidak perlu berkecil hati. Pada era budaya pop kini tiap orang mempunyai potensi menjadi terkenal. Ada dua pihak ekstrim yang terbuka - menjadi penyebar segala kebaikan sesuai dengan ajaran moral spiritual atau membuka busana menggoyang-goyangkan aurat di depan publik. Tentunya kita keberatan dengan pilihan yang kedua. Terjun langsung ke bawah - tatap wajah, datang ke pasar yang banyak manusianya, melakukan ciuman kepada anak-anak. Cara klise ini sering sangat efektif di belahan mana pun di dunia ini. Orang masih sangat terpana dengan sentuhan salaman, senyuman yang hangat, tatapan mata yang tulus dan berangkat dari hati, serta ucapan-ucapan salam yang personal. Dengan pandangan mata yang tamah dan tatapan langsung, perkenalkan diri kita dengan menyebut: "nama saya adalah..." Nanti kalau saya terpilih saya akan membantu kesulitan ibu-ibu dan bapak-bapak di DPR, DPRD, dan lain-lain. Sesungguhnya, sebagai caleg yang bukan pesohor yang menapak karir dari bawah, tidak juga perlu kuatir. Pemilu dengan cara langsung, terbuka, dan sangat lokal ini sebenarnya menguntungkan kita semua - orang-orang serius dan mau kerja keras. 

Karena, bila suara atau dukungan pada saat pemilihan nanti banyak, maka siapa pun dapat "membawa kursinya sendiri" dari rumah. Maksudnya, sudah memiliki investasi dan posisi tawar-menawar yang baik pada partainya masing-masing untuk masuk kedalam urutan di atas pada Pemilu 2009 yang akan datang.

*) Pekerja film dan calon legislatif PDI-P
© 2004 Kalyanamitra