|
|
Tips Mengatasi Suami
yang Ringan Tangan
Dalam menggerakkan mahligai rumah tangga, tentu banyak persoalan yang akan dihadapi. Sebagian orang mengatakan, bahwa pernikahan bagaikan permainan judi. Apakah kita akan bahagia atau tidak? Seharmonis apapun suatu keluarga, pasti ada masalah yang dihadapinya. Terkadang muncul ketakutan bagi pasangan-pasangan muda yang hendak memasuki gerbang pernikahan. Apakah dia pasangan yang tepat bagiku? Apakah aku akan bahagia bersamanya? Apakah dia akan menyayangiku? Segudang pertanyaan nantinya akan terjawab apabila janji nikah sudah terucap dan diikat diikat secara sakral.
Sebagian perempuan yang tidak beruntung akhirnya mendapati suaminya suka memukul atau ringan tangan. Semua terjadi begitu saja. Tanpa ada dugaan sebelumnya bahwa pasangan kita akan menyakiti kita. Tidak ada tanda-tanda pasangan kita akan berani melakukan perbuatan yang sangat menyakitkan itu. Emmy Alamria Abas, seorang psikolog, mengatakan bahwa banyak faktor penyebab suami marah-marah dan mulai ringan tangan. Secara garis besar ada 3 pemicu, yaitu: pertama, karakter dari suami; kedua, akibat tekanan ekonomi; ketiga, hubungan yang kurang harmonis dalam rumah tangga bersangkutan. Emmy menambahkan bahwa ketiga faktor itu menyebabkan suami sering emosi, hingga bagi para istri dapat mengambil keputusan, apakah akan meneruskan perkawinannya atau berpisah. Oleh karena, tujuan orang menikah adalah membangun satu kehidupan yang baik (mawaddah warrahmah).
Karakter Suami
Sejak proses perkenalan dengan calon pasangan, biasanya karakter masing-masing pasangan akan muncul disini, namun ada beberapa orang yang pandai menutupi sifat aslinya, hal ini baru diketahui setelah menikah atau setelah sekian lama menjalani pernikahan. Seandainya tahun-tahun pertama suami sudah mulai menunjukkan karakter suka memukul,menendang, memaki-maki, maka para istri harus mengambil sikap tegas.
Cara mengatasi: Pertama, berbicara terus terang pada suami bahwa kita tidak menyukai perilakunya tersebut. Jika tidak dibicarakan, maka suami menganggap bahwa kita rela diperlakukan seperti itu. Bila lebih parah, maka isteri harus berani melaporkan suaminya kepada pihak yang berwajib atau mencari LSM yang bisa memberikan pertolongan. Ini merupakan bagian yang terberat. Ketika harus melaporkan kekejaman sumi, maka banyak pertimbangan yang harus dilakukan. Apakah akibat kita bergantung secara ekonomi? Takut anak kita tidak memiliki ayah? Masyarakat mencap kita sebagai istri yang tidak becus. Bila perasaan ini muncul, maka resiko kita menerima pukulan demi pukulan tak akan terelakkan. Suami demikian harus kita sadarkan, karena perkawinan demikian sudah tidak sehat.
Tekanan Ekonomi
Perasaan serba salah, keterpurukan karena tak mampu memenuhi kebutuhan keluarga, kerap membuat suami bertindak kasar. Apalagi bila karir si isteri menanjak. Kondisi ini membuat si suami menjadi egois, sensitive, dan mudah melampiaskan marah pada istrinya.
Cara mengatasi: Bicarakan hal itu secara terbuka dan apa yang harus dilakukan. Apakah sang istri harus bekerja atau membuka usaha sendir? Bila si isteri bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, maka sebaiknya tetaplah bertindak bijaksana.
Hubungan yang Kurang Harmonis
Hubungan yang kurang harmonis banyak penyebabnya. Apa karena soal hubungan intim, masalah anak-anak, atau hubungan kekerabatan yang renggang, dan sebagainya.
Cara mengatasi: Bila akar persoalannya adalah hubungan intim, maka bicarakan hal itu terus terang. Apakah harus berobat Bila soal hubungan kekerabatan, maka harus dicari akar persoalan ketidakharmonisan itu di mana? Dengan mencari akar masalahnya, membicarakan hal itu secara terbuka, akan bisa meredam emosi yang meledak-ledak, terutama kebiasaan ringan tangan.
Komentar
Tiap keluarga memiliki cara sendiri dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. Dari pernyataan Emmy tersebut tampak bahwa komunikasi adalah kunci utama dalam berumah tangga. Semua hal harus dibicarakan secara terbuka dan terus terang. Tiap pasangan mesti saling mengingatkan, karena tujuan pernikahan intinya ialah membina hubungan yang harmonis, bukan untuk mendapat perlakuan yang buruk atau menjadi berperilaku buruk. Kita harus berani memulainya, sebelum semuanya terlambat. Namun, Emmy hanya menekankan pihak perempuanlah yang harus mengalah dan memulainya. Perempuan yang menentukan bahagia tidaknya suatu rumah tangga. Jika perempuan tidak memulainya, maka dapat dibayangkan bahwa hal-hal buruk akan menimpa rumah tangga kita. Apakah seperti itu? Bukankah berumah tangga adalah penyatuan dua insan yang bertanggung jawab penuh atas keberlangsungan perkawinan itu sendiri? (DN)
Sumber: Waspada, 10 Agustus 2003 |
|