Edisi I No.2 Juli 2004
 
daftar isi
SAPAAN
FOKUS UTAMA
OPINI
WACANA
SOSOK
ADVOKASI 1 2 3
KESPRO 1 2 3 4 5
PUISI KITA 1 2 3 4
WARTA 1 2 3 4
KRONIK 1 2 3
PUSTAKARIA
BEDAH BUKU 1 2
Realita Kemanusiaan dan HAM

Judul: Jakarta City Tour [Tragedi, Ironi, dan Teror]
Editor: F.X. Rudy Gunawan
Penerbit: Gagas Media dan VHR, Jakarta, Cet. 1, Desember, 2003 
Tebal: ix+107 halaman

Penulisan cerita dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, ringan, tak bertele-tele menjadi trend tersendiri dalam karya sastra Indonesia saat ini. Banyak buku karya penulis bercorak Ayu Utami, Fira Basuki, dan lainnya amat laku di pasaran. Tulisan 'trendy' tersebut sebetulnya mengangkat persoalan yang sangat serius, namun dikemas menjadi pengungkapan persoalan yang mudah dimengerti oleh banyak kalangan. Tulisan semacam itu harusnya lebih banyak dipasarkan atau disosialisasikan ke berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Memang harus kita sadari bahwa di masyarakat kita belum tumbuh kuat kebudayaan membaca. Masyarakat kita masih teguh dalam kebudayaan lisannya.

Dalam penulisan yang bercorak "ringan" demikian, aneka persoalan serius seperti pelanggaran hak asasi manusia, bentuk kejahatan kemanusiaan, diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan, sering dianggap sebagai produk 'impor'. Hal itu dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Inilah yang ditawarkan oleh buku Jakarta City Tour, sebagai buku kumpulan cerita beberapa penulis yang konsen terhadap persoalan hak asasi manusia. Contohnya, F.X. Rudy Gunawan, Seno Gumira Aji, Dorothea Rosa Herliany, dan lainnya. Selama ini, harus diakui bahwa pemahaman bersama atas persoalan HAM belum menjadi persoalan yang serius dalam kehidupan masyarakat umumnya. Banyak yang beranggapan bahwa persoalan HAM merupakan masalah yang hanya diangkat oleh kalangan akademisi dan aktivis NGO. Sehingga, soal HAM hanya bisa dilihat di awan-awan atau tak membumi.

Pemahaman bersama mengenai ham akhirnya menjadi penting ketika banyak kasus dalam masyarakat sebenarnya bersinggungan dengan masalah itu. Misal, kasus penggusuran warga, pemukulan isteri, penculikan warga sipil atau penetapan daerah operasi militer. Semua kasus itu merupakan pelanggaran Ham, namun kurang disadari sepenuhnya oleh masyarakat umum, apalagi yang buta hukum.

Karena itu, melalui media bertutur apa adanya, dengan pilihan kata-kata berbau percakapan sehari-hari, buku ini mencoba membuka pemahaman kita atas persoalan hak asasi manusia sebagai masalah manusia di dunia, termasuk di Indonesia. Dengan demikian, akan tercapai komitmen untuk pelaksanaan keadilan atas hak dasar kehidupan manusia, tidak ada pelanggaran terhadap hak asasi manusia lagi. (DY)
© 2004 Kalyanamitra