|
|
Paguyuban Mitra Kasih: Upaya Kalyanamitra Menguatkan Perempuan Korban Kekerasan
Dalam kurun waktu 1998-2003, Kalyanamitra melalui divisi pendampingannya melakukan kegiatan pendampingan perempuan korban tindak kekerasan secara langsung. Pendampingan Kalyanamitra ini dititikberatkan pada pemulihan trauma korban. Salah satu metode yang digunakan dalam pemulihan trauma korban adalah konseling, baik konseling pribadi maupun kelompok.
Konseling pribadi dilakukan secara tatap muka dan sarana hotline. Untuk konseling kelompok, dilakukan dalam sebuah forum pertemuan antar mitra dampingan Kalyanamitra. Konseling kelompok ini dinamakan Peer Group.
Metode itu dipergunakan sebagai media pemulihan trauma korban, dengan cara saling mendengarkan, sharing masalah, dan bertukar pengalaman sesama korban. Dalam perkembangannya, peer group ini menjadi tempat peserta untuk mendiskusikan berbagai persoalan yang berkait erat dengan problem kekerasan yang mereka hadapi.
Tujuan konseling kelompok atau peer group adalah memberikan penguatan psikologis korban melalui kelompok dan membangun solidaritas sesama korban agar tidak merasa sendiri dalam menghadapi masalahnya.
Pertemuan peer group dilakukan setiap bulan. Pertemuan tersebut diisi dengan diskusi, baik mengenai kasus kekerasan yang sedang dialami maupun tema-tema tertentu yang berhubungan dengan isu-isu perempuan. Kegiatan peer group ini telah dilaksanakan kurang lebih 20 kali pertemuan.
Tema-tema diskusi diantaranya adalah penggalian makna hidup, kekerasan terhadap perempuan ditinjau dari sisi hukum, pemberdayaan ekonomi perempuan, membangun kepercayaan orang lain, melihat akar permasalahan kekerasan terhadap perempuan berbasis gender, pengelolaan emosi melalui olah rasa dan olah tubuh, meditasi sebagai sarana pengelolaan emosi bagi perempuan korban KDRT, dan gender dalam perspektif agama Islam dan Katolik.
Dalam perjalanannya, kegiatan peer group ini makin berkembang. Berdasarkan kebutuhan dikalangan anggota peer group yaitu perlunya peningkatan kapasitas anggota dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dan untuk melakukan pendampingan korban kekerasan yang terjadi di masyarakat sekitar, maka direkomendasikan untuk diadakan pelatihan bagi anggota peer group. Pelatihan dibagi menjadi 2 tahap yaitu Pelatihan sensitivitas gender. Tujuan pelatihan ini ialah memberikan pemahaman dan pengetahuan dasar mengenai gender kepada peserta dan meningkatkan sensitivitas survivor terhadap persoalan sosial. Kemudian, pelatihan membangun sistem pemulihan korban kekerasan dengan tujuan membentuk perspektif tentang kekerasan terhadap perempuan dan embangun keterampilan melakukan konseling pada korban serta membentuk kelompok pendukung atau support group dalam penanganan korban tindak kekerasan.
Usai mengikuti pelatihan sensitivitas gender yang dilaksanakan pada Januari hingga Maret 2004, para peserta berkomitmen untuk membentuk sebuah kelompok sebagai wadah berorganisasi dan berkegiatan dengan tujuan:
- Tercapainya kesadaran perempuan marjinal terhadap posisinya yang mengalami penindasan dan eksploitasi
- Terbentuknya kelompok perempuan untuk membangun institusi pemenuhan kebutuhan dasar secara kolektif
- Terdorongnya kaum perempuan marjinal untuk berperan aktif dalam perubahan masyarakat
Kelompok ini kemudian diberi nama Paguyuban Mitra Kasih dengan menunjuk salah satu anggotanya sebagai koordinator kelompok. Kegiatan Paguyuban ini antara lain:
- Paguyuban Mitra Kasih secara rutin mengadakan pertemuan setiap bulannya. Dalam setiap pertemuan diadakan diskusi, dengan tema diskusi yang disajikan oleh para anggota sendiri secara bergantian. Tujuan diskusi adalah meningkatkan kapasitas anggota kelompok, baik mengenai pengetahuan maupun kemampuan berpendapat
- Kegiatan yang lain kelompok ini adalah dengan menjadi anggota koperasi simpan pinjam Kopwani, karena beberapa anggota paguyuban telah lebih dahulu menjadi anggota Kopwani
Rencana kegiatan Paguyuban selanjutnya adalah membentuk usaha bersama dengan tujuan:
- Sebagai upaya pemberdayaan ekonomi perempuan
- Membuka lapangan kerja bagi anggota kelompok khususnya, dan anggota mitra Kalyanamitra (peer group) umumnya. Sehingga, anggota kelompok yang kebetulan tidak bekerja dan mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan keluarganya dapat terbantu melalui kegiatan ini
Tahap awal usaha ini adalah menerima order finishing undangan. Sebelumnya, para anggota yang akan bekerja harus menjalani pelatihan dan magang di sebuah usaha percetakan undangan. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi mereka yang nantinya menerima pesanan tersebut.
Paguyuban Mitra Kasih, layaknya sebuah organisasi atau kelompok lainnya, banyak mengalami hambatan dan kendala, baik internal kelompok maupun eksternal.
Harapan lebih jauh adalah Paguyuban Mitra Kasih ini dapat menjadi sebuah organisasi perempuan korban kekerasan yang mampu membantu korban-korban lainnya dalam memperjuangkan hak-hak mereka di tengah-tengah masyarakat yang belum sadar gender. (LS)
|
|