Edisi I No.3 Oktober 2004
 
daftar isi
SAPAAN
FOKUS UTAMA
OPINI
WACANA
SOSOK
ADVOKASI 1 2
KESPRO 1 2
PUISI KITA 1 2
WARTA 1 2 3
KRONIK 1 2
PUSTAKARIA 1 2
BEDAH BUKU 1 2
SISIPAN
Hidup Mandiri menuju Kesejahteraan

Berikut merupakan hasil perbincangan tim Kalyanamedia dengan ibu Mar'ah, seorang pedagang sayur, beberapa waktu lalu. 

"Saya lahir di Pekalongan, 10 Juli 1974, dengan nama Mar'ah. Tanggal 3 Maret 1991 saya menikah dengan Kasian atau sering dipanggil Tawing. Suami saya sekarang ini. Sehabis nikah, saya dan suami langsung mengadu nasib ke Jakarta, karena di kampung tidak ada pekerjaan. Di Jakarta, penduduknya kan lebih ramai dan kemungkinan untuk berhasil lebih besar daripada di kampung yang sepi. Saya ke Jakarta juga merasa tidak punya keterampilan, ya jadilah saya seperti sekarang. Selain karena alasan pekerjaan, saya ke Jakarta juga ingin lebih mandiri; jauh dari orang tua, berani mengambil keputusan sendiri. Pokoknya saya lebih bisa dewasa; tidak tergantung lagi pada orang tua. Sekarang saya punya dua anak; yang pertama namanya Siti, perempuan, kelas lima SD. Yang kedua, laki-laki masih balita, belum genap dua tahun usianya.

Awalnya hanya suami saya yang berdagang sayur. Waktu itu belum berkembang seperti sekarang. Dulu kami masih menggunakan gerobak. Satu tahun lamanya Mas Tawing berjualan sayur di Tanah Abang. Tapi saya lihat hasilnya tidak mencukupi kebutuhan kami sehari-hari. Sewaktu di Tanah Abang, sisa-sisa sayuran tidak bisa dimanfaatkan, tidak bisa dibuat masak sendiri, sehingga makan harus beli. Karena tempat tinggal kami dulu di lantai atas dan tidak ada dapurnya sehingga sisa-sisa sayuran sebagian besar dibuang.

Suatu hari, orang tua saya datang dari kampung dan merasa prihatin dengan kehidupan saya yang sudah setahun berusaha di Jakarta, namun belum kelihatan hasilnya. Waktu itu, bapak saya sempat menengok kakak saya yang tinggal di daerah Reni Jaya, Pamulang. Melihat ada peluang berdagang di sini, bapak saya menganjurkan kami untuk pindah saja ke Reni Jaya. Dulu memang masih satu dua orang yang tinggal di perumahan Reni Jaya. Namun bapak saya melihat ke depannya pasti ramai, karena mengingat daerahnya bebas banjir.

Tahun 1992, saya pindah ke Reni Jaya. Kami berjualan kecil-kecilan dengan modal Rp 50.000,- Suami saya jualan sayur menggunakan gerobak berkeliling dua kali sehari. Waktunya pagi antara pukul 06.00-12.00 wib berkeliling kompleks dan sorenya antara pukul 15.00-18.00 wib berkeliling kampung. Istilahnya, sayur yang dijual keliling kampung itu bisa dikatakan sisa dari sayur yang dibawa keliling kompleks. Biasanya, sayurannya sudah mulai layu, namun masih layak untuk dimakan. Tapi, suami saya menjualnya dengan harga yang lebih murah.

Ketika anak pertama saya kelas 3 SD, saya punya niat untuk ikut berdagang. Selain saya merasa anak saya sudah bisa ditinggal, saya ingin berjaga-jaga bila suatu hari suami saya berhalangan berdagang, maka saya bisa menggantikannya. Bukan bermaksud meremehkan suami saya, namun saya punya pikiran jika sewaktu-waktu suami sakit, sementara ada keperluan mendadak, pulang kampung, atau lainnya yang tidak memungkinkan suami saya berjualan, maka saya bisa menggantikannya sehingga kami tidak merugi dan tetap mendapatkan pemasukan. Saya belanja ke pasar sendiri dan berjualan sendiri. Dengan begitu, jika sewaktu-waktu suami saya meninggalkan saya, saya sudah tidak tergantung lagi dan tidak grogi untuk berjualan sayur karena saya sudah menguasai seluk-beluk penjualan sayur; sudah punya bekal, kepandaian, bisa jualan sendiri, mandiri. Jadi, kemungkinan terburuk sudah saya pikirkan sehingga ke depannya saya tidak takut lagi.

Saya lebih memilih berjualan sayuran daripada mengembangkan keterampilan menjahit saya. Saya berpikir bahwa orang membutuhkan makan setiap hari sedangkan menjahitkan baju paling satu atau dua bulan sekali. Kemudian dari berjualan sayur kita bisa mengambil untuk kebutuhan makan kita setiap hari tanpa harus mengeluarkan beaya lagi. Selanjutnya, saya juga merasa tidak mempunyai pendidikan yang cukup untuk bekerja di instansi pemerintah. Saya hanya tamat SMP, namun menurut saya, lulusan SMP jaman dulu dengan sekarang berbeda. Anak SMP sekarang belum bisa dewasa. 

Saya belanja di Pasar Induk Tanah Tinggi, Kebayoran Lama mulai pukul 00.00-04.00 wib. Saya belanja di pasar induk biasanya seminggu sekali dengan modal Rp 600.000-Rp 700.000,- untuk barang-barang yang tahan lama, seperti bawang merah, wortel, kol dan lainnya. Kita beli di pasar induk, tapi kita jual dengan harga pasar Ciputat sehingga lebih bisa bersaing dengan pedagang-pedagang lain. Kemudian untuk barang dagangan per harinya kami beli di pasar Ciputat dengan modal Rp 800.000-Rp 900.000,- per hari.

Menghadapi harga barang yang sering tidak stabil, kami mempunyai cara tersendiri untuk bisa bertahan menghadapi persaingan yang ada. Kami belanja di pasar induk kan seminggu sekali, sehingga selama seminggu itu meskipun harga di pasaran sudah naik tapi kami masih tetap memakai harga lama sewaktu kami beli. Baru minggu depannya kami menaikkan harga tetapi pembeli sudah tidak kaget lagi karena sebelumnya sudah mengetahui tentang kenaikan harga tersebut. Pembeli sudah maklum. 

Jika harga barang mahal, maka kita berusaha mengambil keuntungan secukupnya. Yang penting balik modal, ganti uang bensin dan untuk makan kita sekeluarga cukup. Itu dulu! Masalah untung, itu nomor dua. Menstabilkan harga barang dagangan lebih penting. Kalau harga sudah stabil, kita bisa ancang-ancang lagi untuk penjualan berikutnya. Keputusan mengenai harga barang biasanya merupakan kesepakatan hasil diskusi saya dan suami. Namun, biasanya saya yang lebih bisa menahan harga. Saya berpikir yang harus kita perhitungkan adalah beaya angkutan, makan sehari-hari dan buat bayar capek. Kalau masalah untung, nanti lah! Kalau kita beli murah bisa dijual mahal, tapi kalau beli sudah mahal kita usahakan harganya supaya tidak naik jauh. Misalnya, kalau pasar gelagatnya sepi, maka kita tahan harga, tapi barang-barang yang tidak bisa tahan sampai besok dan tidak bisa disimpan, itu kita jual murah. Untungnya tipis, tapi kita masih mendapatkan hasil, daripada kita buang percuma.

Saya dan suami sekarang tidak lagi jualan keliling kompleks dan kampung. Kami pagi jam 04.00-09.00 wib berjualan di pasar kaget di dekat pangkalan ojek perumahan Reni Jaya, Pamulang. Kemudian keliling kompleks sambil menghabiskan barang dagangan yang belum habis. Saya dan suami berjualan bersama. Suami saya lebih mengurusi ikan dan daging, sedangkan saya mengurusi sayurannya. Awalnya saya, suami dan kakak saya saja yang jualan di sna, tapi lama-lama banyak orang yang ikut nimbrung sehingga jadilah pasar kaget seperti sekarang. Sekarang sudah ada tukang sapunya dan mendapatkan upah dari masing-masing pedangang sebesar Rp 1.000,- per hari. 

Jika ditanya pendapat saya dengan pergantian presiden sekarang, saya inginnya sih harga barang-barang murah. Pokoknya tidak mahal-mahal. Maksud saya, bukan murah terus mahal lalu berubah murah lagi. Bukan begitu maksudnya. Ya stabillah. Pinginnya seperti dulu ketika presidennya Soeharto. Kita dulu merasakan harga tidak mudah naik. Ya, nggak tahu dalam pemerintahan sendiri seperti apa. Istilahnya waktu itu enak aja; nyaman! Masalah pemerintahan bobrok itu kan urusan kita. Namun kita kan nggak punya hak. Yang penting kita merasakan hidup enak, gampang, dan sekolah murah. Inginnya jualan lancar dan anak saya bisa sekolah. Sebagai orang kecil, saya tidak ingin yang aneh-aneh dan tidak mau pusing dengan urusan politik. Saya sudah cukup puas dengan bisa tidur nyenyak, tidak kepanasan dan tidak kehujanan, sehat, bisa makan tiap hari dan anak-anak bisa sekolah. Cukup sederhana andai sang penguasa serius menanganinya!" (DN)
© 2004 Kalyanamitra