Edisi I No.3 Oktober 2004
 
daftar isi
SAPAAN
FOKUS UTAMA
OPINI
WACANA
SOSOK
ADVOKASI 1 2
KESPRO 1 2
PUISI KITA 1 2
WARTA 1 2 3
KRONIK 1 2
PUSTAKARIA 1 2
BEDAH BUKU 1 2
SISIPAN
Peningkatan Kapasitas Anggota Legislatif

Rabu-Jumat, Agustus 2004, sebuah acara bertema "Capacity Building Untuk Anggota Legislatif Perempuan" di Hotel Redtop, Pecenongan, Jakarta Pusat diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Acara ini di hadiri oleh sebagian anggota legislatif perempuan yang terpilih dalam pemilu 5 April yang lalu. Tujuan capacity building ini adalah memberikan pemahaman kepada perempuan yang terpilih menjadi anggota legislatif perspektif gender dan isu perempuan seperti isu kekerasan terhadap perempuan. Pembukaan dilakukan oleh Akbar Tanjung dengan pemukulan gong, seperti layaknya upacara pembukaaan acara yang ditradisikan oleh orde baru. Nuansa orde baru juga maish sangat terasa karena anggota legislatif perempuan yang terpilih banyak yang merupakan istri para pejabat daerah. Untuk anggota DPD yang terpilih masih terdapat nama yang lekat dengan orde baru yaitu Mooryati Sudibyo. Namun jangan menjadi heran dengan terpilihnya beliau, karena pemilih memang memilih berdasarkan kepopuleran semata. Dan ibu Mooryati sebagai salah satu pemilik produk kecantikan yang besar di Indonesia dengan pangsa pasar notabene adalah perempuan, tidaklah heran apabila pemilih perempuan akan lebih memilih beliau, karena sering mendengar namanya ketika membeli produk kecantikan perusahaan beliau. Beberapa wajah yang tidak asing adalah dari kalangan artis, tokoh masyarakat dan aktivis perempuan. Terlihat Marissa Haque yang mewakili PDIP, Angelina Sondakh yang mewakili Partai Demokrat (yang terlihat dari pin berlambang partai tersebut yang dipakainya), Nursyahbani KS yang mewakili PKB atau Marwah Daud, wakil dari Golkar.Dengan komposisi perwakilan yang beraneka ragam akankah anggota legislatif perempuan terpilih mampu menyuarakan aspirasi perempuan? Dan menjadikan isu-isu perempuan bukan hanya sebagai isu privat tapi sebagai isu publik? Serta merumuskan kebijakan yang tidak mendiskriminasi atau menindas kaum perempuan? Kita akan lihat sejauhmana upaya mereka dalam mendorong kemajuan perempuan sehingga terjadi posisi yang setara antara perempuan dan laki-laki, dalam masa tugas mereka mulai Agustus 2004 sampai April 2008. (DY)
 

Diskusi Buku "Asal Usul Keluarga; Kepemilikan Pribadi dan Negara"

Banyak teori yang mengulas terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Dan salah satunya adalah teori dari Frederick Engels, mengenai asal usul kekerasan terhadap perempuan yang dimulai dari konsep hak milik. Teori yang diangkat dari hasil penelitian Morgan atas kehidupan masyarakat dijaman barbarism, peradaban dan kolonialialism, perempuan pernah memiliki posisi yang setara dengan laki-laki yaitu pada jaman barbar. Dimana kehidupan komunal masih merupakan basic dari pembagian kerja. Pada saat konsep hak milik diberlakukan, dimana kehidupan monogami dilanggengkan, maka perempuan ditempatkan dalam wilayah domestik. Pembahasan mengenai buku tersebut dilakukan oleh Kalyanamitra dalam rangka penyebaran wacana dan promosi buku. Pertama, diselenggarakan di Gedung Dharma Wanita Pusat Kuningan sebagai bagian dari peluncuran buku pada Maret 2004, kemudian didiskusikan di Bandung, hasil kerjasama dengan Institut Perempuan, Bandung, pada5 Agustus 2004, dalam Diskusi Bulan Purnama pada 30 Agustus 2004, hasil kerjasama dengan Jaringan kerja Budaya (JKB). (DY)
 

Tutur Perempuan, Wadah "Curhat" Korban Perempuan

Pada 28 September 2004 yang lalu, bertempat di Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta Pusat, diadakan sebuah acara yang menjadi wadah "curhat" para perempuan korban kekerasan lintas kelas dan kasus. Mulai dari korban kekerasan domestik, kekerasan struktural hingga kekerasan negara. Mereka berkumpul saling bercerita masalahnya masing-masing tanpa ada intervensi dari pihak laki-laki. Selama ini ruang bagi perempuan untuk saling bercerita masalahnya sangat sedikit, terutama ketika para laki-laki mulai mendominasi ruang tersebut. Dalam acara tersebut, tidak hanya berupa sharing namun juga penguatan dan penggalangan solidaritas terhadap korban yang tengah memperjuangkan hak-haknya. Rencananya tutur perempuan ini akan terus diselenggarakan dengan kerjasama antara tiga lembaga yaitu Kalyanamitra, Elsam dan TRK. (DY)
© 2004 Kalyanamitra