Edisi I No.4 Desember 2004
 
daftar isi
SAPAAN
FOKUS UTAMA
OPINI
WACANA
SOSOK
ADVOKASI 1 2
KESPER 1 2 3 4
PUISI KITA 1 2 3
WARTA 1 2 3 4
KRONIK 1 2 3
PUSTAKARIA 1 2
BEDAH BUKU 1 2
CATATAN LEPAS
SISIPAN
Biaya Ekonomis Kekerasan Domestik di Spanyol
Oleh Carmen Delgado


Kekerasan dalam rumah tangga (domestik) di Andalusia (bagian utara Spanyol) ternyata menghabiskan dana 2,356 juta euro per tahunnya. Ini menjadi kesimpulan suatu kajian rintisan yang dilakukan oleh Institut Perempuan Andalusia, dengan topik “Biaya Ekonomi dan Sosial Kekerasan Domestik di Andalusia”.

Tidak seperti kajian lainnya yang lazim mencari jumlah pasti berapa besar anggaran yang dibelanjakan untuk publik dalam pencegahan, penegakan dan pemulihan perempuan korban kekerasan, kajian ini justru berusaha menjelaskan bahwa kekerasan domestik adalah masalah serius yang berpengaruh terhadap kesehatan korban, pekerjaan, pendidikan, hukum, sosial dan psikologis. ”Ini pertama kali bahwa biaya sosial dan ekonomi gejala tersebut dihitung di Spanyol. Kajian internasional yang mengevaluasi persoalan tersebut di negara-negara seperti Selandia Baru, Kanada, Australia, Belanda relatif baru, yaitu dimulai tahun 1990an. Baru belakangan ini kalangan ekonom melakukan kajian ini, yang biasanya difokuskan pada aspek medis dan sosiologis... oleh karena hal ini sangat rumit, sehingga sulit untuk diangkakan,” kata Isabel Martinez, ekonom sekaligus direktur teknis proyek kajian ini.

Tim peneliti yang berasal dari berbagai latar belakang ilmu pengetahuan ini berhasil menunjukkan bahwa biaya akibat kekerasan terhadap perempuan di dalam rumah tangga berpengaruh langsung di tingkat keluarga, publik dan masyarakat secara umum. “Kajian memperlihatkan adanya dampak kuat gejala itu, yakni: secara horisontal menyebar di kalangan sanak keluarga, pegawai, masyarakat umum; dan secara vertikal terjadi setiap waktu. Contohnya, penyakit fisik dan psikologis akibat kekerasan itu membutuhkan pengobatan yang relatif lama dan biaya besar” kata Isabel Martinez. Kajian ini telah menghitung hancurnya kehidupan korban dengan ukuran material. Juga diperhatikan berbagai aspek kehidupan perempuan, seperti kesehatan fisik dan mental, situasi hukum, status pekerjaan, status sosial, jumlah anak dan sumberdaya. Pendekatan kajian ini melampaui kajian-kajian sebelumnya yang hanya menekankan anggaran guna menata kehidupan dalam berbagai aspek. Kajian ini sungguh membantu mereka yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga “untuk memiliki pandangan menyeluruh dan lebih luas bagaimana masalah tersebut mempengaruhi mereka melalui siklus kehidupannya,” ungkap Martinez. Tim kajian berhasil mewawancarai 300 perempuan korban kekerasan (secara fisik) oleh mantan suami atau pasangan hidupnya.

Kajian ini pun membedakan antara biaya langsung dan tidak langsung. Biaya langsung dirumuskan sebagai nilai barang dan jasa yang dikonsumsi korban sebagai akibat kekerasan. Hal itu gampang diukur daripada biaya tak langsung, karena harus menghitung pengeluaran sosial, seperti layanan kesehatan fisik dan mental yang disediakan untuk perempuan korban dan anak-anaknya. Untuk itu ditambahkan juga pengeluaran untuk layanan hukum dan publik yang terkait dengan pihak ketiga, seperti ornop (memberikan dukungan sumberdaya dan relawan). Biaya itu mencapai 35 persen dari total, atau 843 juta euro. Sekitar 1 persen dari total Pendapatan Kotor Nasional (GDP) Andalusia.

Biaya Tersembunyi

Bagian terbesar biaya ekonomi adalah hilangnya barang dan jasa layanan milik si korban yang tak lain ialah keberadaannya sebagai makhluk hidup. Ketika kita bicara mengenai biaya tak langsung, jelas di dalamnya termasuk aspek terbaru dan terpenting, yaitu nilai sesuatu yang nyata namun tersembunyi, misalnya biaya sakit dan penderitaan pribadi. Hasil-hasil yang mengejutkan ditemukan dalam lapangan kerja. Hasil kajian menunjukkan bahwa 71 persen perempuan korban yang diwawancarai bermasalah dengan kinerja mereka di tempat kerja; 64 persen kehilangan kesempatan untuk dipromosikan; 46 persen diancam di tempat mereka bekerja; 20 persen keluar dari pekerjaan; 18 persen melaporkan persoalannya kepada manajer dan teman sekerjanya; 25 persen mengalami kecelakaan di tempat kerja dan 1 persen menderita luka serius. Dengan demikian, akibat kekerasan, maka perempuan bekerja menderita luar biasa - hilangnya pendapatan mereka. Jumlah terbesar anggaran tahunan yang dikeluarkan akibat kekerasan dalam rumah tangga menjadi dampak yang tak terbaharui dalam kerja perempuan, yakni 707 juta euro atau sekitar 30 persen dari total biaya dan diikuti oleh dampak kehancuran kehidupan pribadi dan sosial mereka (27%).

Siapa yang Membayar Lebih?

Meskipun perusahaan-perusahaan dan sektor publik menanggung beban biaya akibat kekerasan dalam rumah tangga, namun korbanlah yang memikul beban paling berat. Mereka menyerap sekitar 34 persen dari total biaya, yaitu 1 milyar euro; yang umumnya akibat dari penderitaan dan biaya terkait dengan belanja hidup sehari-hari mereka (196 juta euro per tahun). Wilayah ini tampak sebagai kekerasan gender dan korban dipaksa membayar apa yang mereka tidak lakukan, ketika mereka dicegah untuk memperoleh berbagai pelatihan yang dibutuhkan oleh pasar kerja mereka. Dapat dikatakan, bahwa persentasi tertinggi perempuan tersebut harusnya bekerja namun tidak; sehingga mereka tidak memiliki pendapatan. Bagi perempuan pekerja, keadaannya semakin buruk ketika upah mereka menurun akibat hari dan jam kerja mereka berkurang. Selain itu, mereka juga tidak mendapatkan bonus hasil produktivitas ataupun peluang promosi. Penting diperhatikan bahwa 73 persen perempuan yang melapor kasusnya menyatakan alasan kenapa mereka tidak bisa bercerai, karena ketergantungan ekonomis pada suami mereka.

Di sisi lain, perempuan korban harus membayar layanan fisik dan mental mereka (98 juta euro per tahun); dampak kekerasan terhadap anak-anak mereka (92 juta euro per tahun); biaya hukum (60,7 juta euro per tahun). Sektor publik, baik pemerintahan pusat maupun local membayar 42 persen dari total beaya - diperkirakan 947 juta euro per tahunnya - untuk menyembuhkan dampak kekerasan terhadap anak-anak dan kesehatan perempuan. Perusahaan-perusahaan dan pekerja membayar 385,3 juta euro per tahun, atau 16 persen dari total biaya. Akhirnya, biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga dan sanak saudara korban sekitar 1 persen. Angka ini menjelaskan alasan perlunya program perlindungan oleh negara. Tambahan, berbagai program perlindungan dan tindakan politis terhadap korban yang tersembunyi - mayoritas terbesar. Biaya tak langsung atau tersembunyi, bila akar persoalan munculnya kekerasan dalam rumah tangga tidak dihapuskan, yaitu persoalan yang menyerap sumberdaya rumahtangga dan publik, maka menyebabkan hilangnya harta benda korban dan kehancuran pribadi dan masyarakat secara dramatis. (HG)

Sumber: Women’s Global Network for Reproductive Rights, Newsletter 82, 2004, No. 2
© 2004 Kalyanamitra