|
|
Biaya Ekonomis Kekerasan
Domestik di Spanyol
Oleh Carmen Delgado
Kekerasan dalam rumah tangga (domestik) di Andalusia (bagian
utara Spanyol) ternyata menghabiskan dana 2,356 juta euro per
tahunnya. Ini menjadi kesimpulan suatu kajian rintisan yang
dilakukan oleh Institut Perempuan Andalusia, dengan topik “Biaya
Ekonomi dan Sosial Kekerasan Domestik di Andalusia”.
Tidak seperti kajian lainnya yang lazim mencari jumlah pasti
berapa besar anggaran yang dibelanjakan untuk publik dalam
pencegahan, penegakan dan pemulihan perempuan korban kekerasan,
kajian ini justru berusaha menjelaskan bahwa kekerasan domestik
adalah masalah serius yang berpengaruh terhadap kesehatan korban,
pekerjaan, pendidikan, hukum, sosial dan psikologis. ”Ini pertama
kali bahwa biaya sosial dan ekonomi gejala tersebut dihitung di
Spanyol. Kajian internasional yang mengevaluasi persoalan tersebut
di negara-negara seperti Selandia Baru, Kanada, Australia, Belanda
relatif baru, yaitu dimulai tahun 1990an. Baru belakangan ini
kalangan ekonom melakukan kajian ini, yang biasanya difokuskan
pada aspek medis dan sosiologis... oleh karena hal ini sangat
rumit, sehingga sulit untuk diangkakan,” kata Isabel Martinez,
ekonom sekaligus direktur teknis proyek kajian ini.
Tim peneliti yang berasal dari berbagai latar belakang ilmu
pengetahuan ini berhasil menunjukkan bahwa biaya akibat kekerasan
terhadap perempuan di dalam rumah tangga berpengaruh langsung di
tingkat keluarga, publik dan masyarakat secara umum. “Kajian
memperlihatkan adanya dampak kuat gejala itu, yakni: secara
horisontal menyebar di kalangan sanak keluarga, pegawai,
masyarakat umum; dan secara vertikal terjadi setiap waktu.
Contohnya, penyakit fisik dan psikologis akibat kekerasan itu
membutuhkan pengobatan yang relatif lama dan biaya besar” kata
Isabel Martinez. Kajian ini telah menghitung hancurnya kehidupan
korban dengan ukuran material. Juga diperhatikan berbagai aspek
kehidupan perempuan, seperti kesehatan fisik dan mental, situasi
hukum, status pekerjaan, status sosial, jumlah anak dan
sumberdaya. Pendekatan kajian ini melampaui kajian-kajian
sebelumnya yang hanya menekankan anggaran guna menata kehidupan
dalam berbagai aspek. Kajian ini sungguh membantu mereka yang
menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga “untuk memiliki
pandangan menyeluruh dan lebih luas bagaimana masalah tersebut
mempengaruhi mereka melalui siklus kehidupannya,” ungkap Martinez.
Tim kajian berhasil mewawancarai 300 perempuan korban kekerasan
(secara fisik) oleh mantan suami atau pasangan hidupnya.
Kajian ini pun membedakan antara biaya langsung dan tidak
langsung. Biaya langsung dirumuskan sebagai nilai barang dan jasa
yang dikonsumsi korban sebagai akibat kekerasan. Hal itu gampang
diukur daripada biaya tak langsung, karena harus menghitung
pengeluaran sosial, seperti layanan kesehatan fisik dan mental
yang disediakan untuk perempuan korban dan anak-anaknya. Untuk itu
ditambahkan juga pengeluaran untuk layanan hukum dan publik yang
terkait dengan pihak ketiga, seperti ornop (memberikan dukungan
sumberdaya dan relawan). Biaya itu mencapai 35 persen dari total,
atau 843 juta euro. Sekitar 1 persen dari total Pendapatan Kotor
Nasional (GDP) Andalusia.
Biaya Tersembunyi
Bagian terbesar biaya ekonomi adalah hilangnya barang dan jasa
layanan milik si korban yang tak lain ialah keberadaannya sebagai
makhluk hidup. Ketika kita bicara mengenai biaya tak langsung,
jelas di dalamnya termasuk aspek terbaru dan terpenting, yaitu
nilai sesuatu yang nyata namun tersembunyi, misalnya biaya sakit
dan penderitaan pribadi. Hasil-hasil yang mengejutkan ditemukan
dalam lapangan kerja. Hasil kajian menunjukkan bahwa 71 persen
perempuan korban yang diwawancarai bermasalah dengan kinerja
mereka di tempat kerja; 64 persen kehilangan kesempatan untuk
dipromosikan; 46 persen diancam di tempat mereka bekerja; 20
persen keluar dari pekerjaan; 18 persen melaporkan persoalannya
kepada manajer dan teman sekerjanya; 25 persen mengalami
kecelakaan di tempat kerja dan 1 persen menderita luka serius.
Dengan demikian, akibat kekerasan, maka perempuan bekerja
menderita luar biasa - hilangnya pendapatan mereka. Jumlah
terbesar anggaran tahunan yang dikeluarkan akibat kekerasan dalam
rumah tangga menjadi dampak yang tak terbaharui dalam kerja
perempuan, yakni 707 juta euro atau sekitar 30 persen dari total
biaya dan diikuti oleh dampak kehancuran kehidupan pribadi dan
sosial mereka (27%).
Siapa yang Membayar Lebih?
Meskipun perusahaan-perusahaan dan sektor publik menanggung beban
biaya akibat kekerasan dalam rumah tangga, namun korbanlah yang
memikul beban paling berat. Mereka menyerap sekitar 34 persen dari
total biaya, yaitu 1 milyar euro; yang umumnya akibat dari
penderitaan dan biaya terkait dengan belanja hidup sehari-hari
mereka (196 juta euro per tahun). Wilayah ini tampak sebagai
kekerasan gender dan korban dipaksa membayar apa yang mereka tidak
lakukan, ketika mereka dicegah untuk memperoleh berbagai pelatihan
yang dibutuhkan oleh pasar kerja mereka. Dapat dikatakan, bahwa
persentasi tertinggi perempuan tersebut harusnya bekerja namun
tidak; sehingga mereka tidak memiliki pendapatan. Bagi perempuan
pekerja, keadaannya semakin buruk ketika upah mereka menurun
akibat hari dan jam kerja mereka berkurang. Selain itu, mereka
juga tidak mendapatkan bonus hasil produktivitas ataupun peluang
promosi. Penting diperhatikan bahwa 73 persen perempuan yang
melapor kasusnya menyatakan alasan kenapa mereka tidak bisa
bercerai, karena ketergantungan ekonomis pada suami mereka.
Di sisi lain, perempuan korban harus membayar layanan fisik dan
mental mereka (98 juta euro per tahun); dampak kekerasan terhadap
anak-anak mereka (92 juta euro per tahun); biaya hukum (60,7 juta
euro per tahun). Sektor publik, baik pemerintahan pusat maupun
local membayar 42 persen dari total beaya - diperkirakan 947 juta
euro per tahunnya - untuk menyembuhkan dampak kekerasan terhadap
anak-anak dan kesehatan perempuan. Perusahaan-perusahaan dan
pekerja membayar 385,3 juta euro per tahun, atau 16 persen dari
total biaya. Akhirnya, biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga
dan sanak saudara korban sekitar 1 persen. Angka ini menjelaskan
alasan perlunya program perlindungan oleh negara. Tambahan,
berbagai program perlindungan dan tindakan politis terhadap korban
yang tersembunyi - mayoritas terbesar. Biaya tak langsung atau
tersembunyi, bila akar persoalan munculnya kekerasan dalam rumah
tangga tidak dihapuskan, yaitu persoalan yang menyerap sumberdaya
rumahtangga dan publik, maka menyebabkan hilangnya harta benda
korban dan kehancuran pribadi dan masyarakat secara dramatis. (HG)
Sumber: Women’s Global Network for Reproductive Rights, Newsletter
82, 2004, No. 2 |
|