Edisi I No.4 Desember 2004
 
daftar isi
SAPAAN
FOKUS UTAMA
OPINI
WACANA
SOSOK
ADVOKASI 1 2
KESPER 1 2 3 4
PUISI KITA 1 2 3
WARTA 1 2 3 4
KRONIK 1 2 3
PUSTAKARIA 1 2
BEDAH BUKU 1 2
CATATAN LEPAS
SISIPAN
Pemberdayaan Perempuan Mengentaskan Kemiskinan

Judul : Kemiskinan, Perempuan dan Pemberdayaaan
Penulis : Prof. Dr. Loekman Soetrisno
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta, 1997
Tebal : 198 halaman

Kumpulan artikel Loekman Soetrisno ini merupakan hasil pemikirannya dalam melihat persoalan-persoalan kemiskinan, ketidakadilan gender dan ketidakberdayaan masyarakat dari perspektif sosiologis.Terdapat tiga bagian besar, yang kemudian menjadi judul besar buku ini: Kemiskinan, Perempuan, dan Pemberdayaan. Bagian pertama mengulas tentang pengentasan kemiskinan, bagian kedua membahas tentang sosok perempuan, bagaimana peran dan masalahnya dan ketiga mengenai pemberdayaan massa rakyat.

Loekman Soetrisno menyampaikan dan mengajak pembaca untuk memahami orang miskin dan mengapa terjadi kemiskinan. Pandangan stereotipe bahwa orang miskin itu pemalas dan tidak hemat dibantah oleh Loekman. Ia berpendapat ketidakberuntungan orang miskin itu hendaknya diletakkan pada konteks yang lebih luas, seperti model pembangunan yang dianut negara, ketidakadilan yang mengendap dalam sistem-struktur dan kebijakan-kebijakan sosio-ekonomi-politik yang tidak berpihak pada si lemah dan miskin. Dalam upaya pengentasannya, menurut Loekman, pemerintah harus membuat kebijakan yang terpadu. Artinya, diperlukan kebijakan yang bersifat ekonomis dan non-ekonomis seperti kemudahan memperoleh KTP atau memberikan hak ulayat bagi suku asli di pedalaman. Usaha memberantas kemiskinan bukan hanya menjadi tugas pemerintah melainkan tugas masyarakat luas, seperti kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat dan para pengusaha.

Loekman menempatkan pendidikan sebagai media untuk mengangkat manusia dari ketertinggalan termasuk kemiskinan. Pendidikan dinilainya sebagai upaya mobilitas sosial dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Selain pendidikan, kelompok pers juga memiliki peranan besar dalam memobilisasi masyarakat untuk mendukung gerakan nasional memberantas kemiskinan. Penelitian juga demikian. Perlu pendekatan multi-displin dalam melihat kemiskinan sehingga pemerintah dapat terbantu mencari solusi yang tepat dalam mengatasi persoalan itu. Industrialisasi ternyata tidak memberi solusi bagi kemiskinan. Justru yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan pengangguran adalah sektor self employed (membuka kesempatan kerja untuk diri sendiri). Ini paradigma rakyat yang berpotensi menanggulangi kemiskinan di perkotaan. Tanpa membutuhkan modal besar dan keterampilan khusus, orang dapat bekerja untuk menghidupi kehidupannya.

Di pedesaan juga terjadi kemiskinan. Ini disebabkan oleh lokasi yang terpencil dan terasing dari akses ekonomi dan politik. Untuk penanggulangannya, menurut Loekman, pemerintah perlu melakukan pengembangan wilayah terpencil melalui pembangunan in situ baik dari segi fasilitas maupun sumber daya manusianya. Kebijakan Pakto 27 juga dinilai membantu masyarakat pedesaan untuk mendapatkan akses pinjaman ke bank. Pakto 27 adalah kebijakan keuangan/moneter dan perbankan pemerintah Indonesia untuk menderegulasi pendirian bank di Indonesia sehingga dapat dijangkau oleh rakyat pedesaan.

Di bagian kedua, Loekman menampilkan sosok perempuan beserta peran dan masalah-masalahnya. Perempuan sebagai bagian terbesar dari kelompok miskin di Indonesia ternyata memiliki potensi besar dalam proses pembangunan di Indonesia. Di Indonesia, profil perempuan era 80-an hingga kini digambarkan sebagai manusia yang harus hidup dalam situasi dilematis. Di satu sisi, perempuan dituntut untuk berperan di semua sektor, namun di lain sisi muncul tuntutan agar perempuan tidak melupakan “kodrat”nya sebagai perempuan. Tuntutan demikian membuat perempuan memikul beban yang berat (double burden). Kodrat ialah peran perempuan yang dikonstruksi oleh sosial-budaya masyarakat Indonesia. Kodrat dibiaskan maknanya menjadi suatu yang menempel pada perempuan dan menjadi citra diri perempuan. Citra tersebut akhirnya oleh pemerintah dilembagakan dalam program pembangunan. Ada lima tugas utama perempuan (Panca Tugas Perempuan), yakni: (1) sebagai pendamping suami, (2) sebagai pendidik generasi muda, (3) sebagai pengatur rumah tangga, (4) sebagai tenaga kerja, dan (5) sebagai anggota organisasi masyarakat.

Dalam realitas kehidupan, Loekman melihat ternyata “kodrat” bukan nilai yang mereka hayati. Peran ganda bukan hal yang baru. Sejak kecil mereka terdidik untuk mampu bertahan hidup dan menghidupi keluarganya dengan bekerja. Pembangunan (industrialisasi) memiskinkan mereka, mesin dan tenaga kerja terampil menyingkirkan tenaga mereka dari pekerjaan mereka.

Dalam dunia kerja, hampir sebagian besar perempuan masih kurang memiliki keterampilan. Lagi pula mereka dibatasi oleh nilai-nilai kultural mengenai jenis pekerjaan yang boleh digeluti. Berbeda dengan kaum lelaki yang bebas memperoleh pekerjaan dan pendidikan untuk menunjang pekerjaannya. Padahal perempuan khususnya perempuan pedesaan yang miskin merupakan tenaga kerja utama, sama dengan laki-laki dalam keluarga mereka. Pada kenyataannya, perempuan selalu diposisikan sebagai pencari nafkah tambahan. Kemiskinan, menurut Loekman, penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan di lingkup rumah tangga maupun di jalanan.

Di bagian terakhir buku ini, Loekman memaparkan bagaimana membangun manusia Indonesia yang berkualitas, kuat mental ideologisnya dan memiliki budaya terbaik (excellent). Menurutnya, manusia Indonesia kini umumnya memiliki budaya mediokritas, yaitu budaya yang berorientasi pada kepuasan hasil yang tidak maksimal atau kelas dua dan takut bersaing. Dengan membangun manusia Indonesia baru dan penerapan strategi pemberdayaan sumber daya manusia yang tepat, maka Indonesia diharapkan dapat menuju perubahan dunia ke depan yang penuh persaingan.

Tulisan-tulisan dalam buku ini berasal dari makalah-makalah Loekman Soetrisno hasil seminar dan diskusi yang diselenggarakan di berbagai universitas dan direktorat pemerintahan yang dikumpulkan, kemudian ditata hingga menjadi kesatuan yang saling terkait. Substansi pemikiran-pemikiran Loekman dalam buku ini saling berkaitan. Namun, di bagian akhir buku ini yang memaparkan tentang pemberdayaan dan pembangunan manusia Indonesia, terkesan lepas dari bagian kedua yang memaparkan tentang sosok perempuan. Upaya pemberdayaan kaum perempuan yang diakui sebagai bagian dari tenaga kerja Indonesia tidak tergali lebih dalam. Padahal, kalau kita lihat judul besar buku ini dan sampul depan yang menampilkan sketsa sosok perempuan tua, berkebaya, wajah murung dan tampak “miskin”, di bawahnya tertera judul dengan huruf kapital tebal: Kemiskinan, Perempuan dan Pemberdayaan; pembaca seperti saya tentu tergelitik untuk membaca lebih jauh soal perempuannya daripada sekadar membaca pendahuluannya. (LL)
© 2004 Kalyanamitra