Edisi I No.4 Desember 2004
 
daftar isi
SAPAAN
FOKUS UTAMA
OPINI
WACANA
SOSOK
ADVOKASI 1 2
KESPER 1 2 3 4
PUISI KITA 1 2 3
WARTA 1 2 3 4
KRONIK 1 2 3
PUSTAKARIA 1 2
BEDAH BUKU 1 2
CATATAN LEPAS
SISIPAN
Mimpi Buruk: Kemiskinan dan Bunuh Diri

Belum usai kita diusik dengan pesta pora pemilihan umum langsung anggota DPR, DPRD, DPD dan presiden Indonesia, bagai geledek di siang bolong kita dikejutkan oleh berita yang memilubirukan hati. Seorang ibu tengah hamil 5 bulan di Desa Putat, Kampung Cidawolong-Cirebon, Jumat 17 Desember 2004, nekat membakar diri bersama dua anaknya. Berita bunuh diri ini menghiasi halaman depan beberapa surat kabar terkemuka di Indonesia, tabloid dan media elektronika. Jasih (30 tahun), bersama dua anaknya Galang (7 tahun) dan Galuh (4,5 tahun), secara berani mengakhiri hidupnya. Sebelum membakar diri, Jasih sempat menulis surat untuk suaminya. Ada apa dengan gejala ini?

Kisah kelam kemanusiaan macam ini bila rajin kita simak, amati dan dengarkan melalui bisik-bisik tetangga, maka di Jakarta saja sudah banyak terjadi. Sayangnya, banyak kasus ini tidak termuat koran atau media publikasi lainnya. Media kurang memuatnya mungkin karena si pelaku bukanlah orang terkenal, bintang film dan sejenisnya. Mereka bukan pula warga negara kelas satu di negeri ini. Mereka bahkan bukan penduduk resmi suatu rukun tetangga alias kaum gelandangan. Tentu kisah mereka bukan barang menarik untuk dikabarkan ke masyarakat luas apalagi menjadi bahan omongan tingkat tinggi para elit politik. Apalah artinya Jasih dan kedua anaknya bagi negara Republik Indonesia?

Benar kata seorang teman. Sekejam-kejamnya ibu tiri, maka lebih kejam pemerintah Indonesia yang manipulatif dan korup. Pemerintahan yang memakmurkan diri pribadi, keluarga dan kelompok-kelompoknya. Pemerintahan yang menggadaikan tanah air dan orang-orang di atasnya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Masalah Jasih, sebetulnya sangat sederhana. Ia tidak punya uang. Mengapa orang tidak punya uang? Karena tidak bekerja! Mengapa orang tidak punya kerja? Karena tidak ada lapangan kerja. Siapa yang bertanggungjawab dengan penyediaan lapangan kerja di Indonesia? Negara dan pemerintahannya! Apakah kini negara menyediakan lapangan kerja? Jawabnya: tidak! Kalau harus rakyat yang menciptakan lapangan kerja sendiri-sendiri; untuk apa ada negara dan pemerintah? Untuk apa semua lembaga yang mengatasnamakan rakyat itu ada?

Penderitaan Jasih dan keluarganya adalah potret buram kemiskinan yang melanda Indonesia saat ini. Kemiskinan itu tak perlu kita cari jauh-jauh, karena di depan mata kita persoalan itu menggunung. Kita pun bagian darinya. Jasih dan keluarganya tidak lagi menjadi tuan dan puan di negerinya sendiri. Mungkin ia hanya nisan yang tak punya makna. Jasih dan keluarganya tidak sendiri mengalami mimpi-mimpi buruk di negeri ini. Kita perih menyaksikan kisah sedih itu. Namun Jasih, dengan membakar diri bersama kedua anaknya, menunjuk hidung betapa tak berperikemanusiaannya penguasa yang membiarkan kemiskinan dan kebodohan merajalela di negeri ini. membiarkan mimpi buruk menghantui kita dari generasi ke generasi. Jasih, kau pahlawan sejati! (HG)
© 2004 Kalyanamitra