|
|
Mimpi Buruk: Kemiskinan
dan Bunuh Diri
Belum usai kita diusik dengan pesta pora pemilihan umum langsung
anggota DPR, DPRD, DPD dan presiden Indonesia, bagai geledek di
siang bolong kita dikejutkan oleh berita yang memilubirukan hati.
Seorang ibu tengah hamil 5 bulan di Desa Putat, Kampung
Cidawolong-Cirebon, Jumat 17 Desember 2004, nekat membakar diri
bersama dua anaknya. Berita bunuh diri ini menghiasi halaman depan
beberapa surat kabar terkemuka di Indonesia, tabloid dan media
elektronika. Jasih (30 tahun), bersama dua anaknya Galang (7
tahun) dan Galuh (4,5 tahun), secara berani mengakhiri hidupnya.
Sebelum membakar diri, Jasih sempat menulis surat untuk suaminya.
Ada apa dengan gejala ini?
Kisah kelam kemanusiaan macam ini bila rajin kita simak, amati dan
dengarkan melalui bisik-bisik tetangga, maka di Jakarta saja sudah
banyak terjadi. Sayangnya, banyak kasus ini tidak termuat koran
atau media publikasi lainnya. Media kurang memuatnya mungkin
karena si pelaku bukanlah orang terkenal, bintang film dan
sejenisnya. Mereka bukan pula warga negara kelas satu di negeri
ini. Mereka bahkan bukan penduduk resmi suatu rukun tetangga alias
kaum gelandangan. Tentu kisah mereka bukan barang menarik untuk
dikabarkan ke masyarakat luas apalagi menjadi bahan omongan
tingkat tinggi para elit politik. Apalah artinya Jasih dan kedua
anaknya bagi negara Republik Indonesia?
Benar kata seorang teman. Sekejam-kejamnya ibu tiri, maka lebih
kejam pemerintah Indonesia yang manipulatif dan korup.
Pemerintahan yang memakmurkan diri pribadi, keluarga dan
kelompok-kelompoknya. Pemerintahan yang menggadaikan tanah air dan
orang-orang di atasnya untuk kepentingan dirinya sendiri.
Masalah Jasih, sebetulnya sangat sederhana. Ia tidak punya uang.
Mengapa orang tidak punya uang? Karena tidak bekerja! Mengapa
orang tidak punya kerja? Karena tidak ada lapangan kerja. Siapa
yang bertanggungjawab dengan penyediaan lapangan kerja di
Indonesia? Negara dan pemerintahannya! Apakah kini negara
menyediakan lapangan kerja? Jawabnya: tidak! Kalau harus rakyat
yang menciptakan lapangan kerja sendiri-sendiri; untuk apa ada
negara dan pemerintah? Untuk apa semua lembaga yang
mengatasnamakan rakyat itu ada?
Penderitaan Jasih dan keluarganya adalah potret buram kemiskinan
yang melanda Indonesia saat ini. Kemiskinan itu tak perlu kita
cari jauh-jauh, karena di depan mata kita persoalan itu
menggunung. Kita pun bagian darinya. Jasih dan keluarganya tidak
lagi menjadi tuan dan puan di negerinya sendiri. Mungkin ia hanya
nisan yang tak punya makna. Jasih dan keluarganya tidak sendiri
mengalami mimpi-mimpi buruk di negeri ini. Kita perih menyaksikan
kisah sedih itu. Namun Jasih, dengan membakar diri bersama kedua
anaknya, menunjuk hidung betapa tak berperikemanusiaannya penguasa
yang membiarkan kemiskinan dan kebodohan merajalela di negeri ini.
membiarkan mimpi buruk menghantui kita dari generasi ke generasi.
Jasih, kau pahlawan sejati! (HG) |
|