|
|
Cita-cita Lasmi:
Menyekolahkan Anak Hingga Diploma
Ia bernama Sulasmi. Biasa dipanggil Mbak Lasmi. Perempuan Betawi
ini lahir pada 5 April 1959 di Jakarta. Ia sulung dari empat
bersaudara, buah perkawinan Samin dengan Romi. Bersama ketiga
adiknya, sejak kecil ia hidup dalam keadaan ekonomi keluarga yang
sulit. Ayahnya bekerja sebagai montir mesin tik. Ketika usianya 10
tahun dan adiknya yang terkecil 3 tahun, ayah mereka meninggal
dunia. Ayahnya sudah lama mengidap penyakit asma, namun karena
tidak punya biaya untuk berobat ke dokter, ayahnya hanya membeli
obat-obatan di warung. Bahkan sebelum meninggal dunia, mereka
tidak sempat membawa ayahnya ke rumah sakit.
Dua adiknya yang terkecil kemudian juga meninggal dunia,
berturut-turut dalam tahun yang sama. Seorang meninggal karena
campak, sedang adik bungsunya meninggal karena luka dalam yang
tidak diobati karena ketiadaan biaya. Karena peristiwa ini, Lasmi
ingat ketika saat itu penduduk kampung membantu menerangi rumah
mereka dengan lampu-lampu untuk menghindarkan keluarga mereka dari
musibah yang mungkin datang berikutnya. Waktu itu rumah mereka
belum mendapat aliran listrik.
Untuk meringankan beban keluarga, Lasmi kecil kemudian dititipkan
ibunya untuk tinggal bersama pamannya. Setahun di rumah pamannya,
sekolah-nya dibiayai dan ia harus membantu pekerjaan di rumah.
Karena tidak betah dan sering tidak akur dengan sepupunya, sewaktu
liburan kenaikan kelas ia memutuskan untuk kembali ke rumah ibunya
dan berhenti sekolah saja. Ketika itu ia sudah selesai kelas 3
Sekolah Dasar.
Lasmi memutuskan untuk membantu ibunya. Saat itu ibunya bekerja
sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter gigi di
daerah Matraman. Lasmi kemudian bekerja di klinik tempat praktek
dokter gigi itu. Belakangan adik laki-lakinya juga berdagang
asongan. Dengan pekerjaan ini, mereka dapat memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari dan membiayai pendidikan adik Lasmi hingga kelas
6 Sekolah Dasar.
Lasmi kecil tidak pernah memiliki cita-cita untuk masa depannya.
Ia tidak pernah terpikir untuk menjadi presiden, dokter, atau
profesi-profesi lainnya, karena ia mengerti bagaimana keadaan
ekonomi mereka yang tidak akan pernah memungkinkan untuk itu. Saat
itu, ia hanya berpikir bahwa ia harus mengikuti orang tua, tidak
ingin diomeli orang lain selain keluarganya, dan ia ingin membantu
orang tua mencari uang.
Saat ia berusia 16 tahun, ibunya menjodohkannya dengan Abdul
Hasan. Pria ini dikenal ibunya karena ia adalah langganan warung
nasi milik neneknya. Ia mengaku sebagai bandar sayuran yang
memasok bahan dagangan ke pasar. Ibu dan neneknya berharap dengan
menikahnya Lasmi, kehidupan ekonomi mereka dapat terbantu.
Lasmi dikenalkan dengan calon suaminya 3 bulan sebelum menikah.
Mereka hanya sesekali bertemu, karena saat itu Lasmi masih
bekerja. Selisih usia mereka sangat jauh. Pada awalnya Lasmi
menangis dan tertekan. Ia marah dan menolak untuk dinikahkan. Tapi
karena tidak dapat berbuat apa-apa, akhirnya ia pasrah. Belakangan
ia mengetahui bahwa suaminya hanya pedagang sayuran, dan kehidupan
ekonominya pun pas-pasan.
Tiga bulan pertama perkawinannya, Lasmi tidak mempedulikan
suaminya. Namun kemudian akhirnya ia merasa kasihan juga dan mulai
berbaikan dengan suaminya. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai
3 orang anak; semuanya laki-laki.
Setelah menikah, Lasmi berhenti bekerja. Kala itu ia pernah
mengikuti kursus menjahit gratis yang diadakan kelurahan.
Sebetulnya tidak benar-benar gratis, karena peserta kursus
masing-masing harus membeli kain bahan untuk praktek. Lasmi tidak
memiliki cukup uang untuk disisihkan bagi keperluan tambahan
semacam itu, ia pun berhenti dari kursus.
Tahun 1991, bibi Lasmi mengalami kecelakaan yang mengakibatkan
kakinya patah dan tidak dapat bekerja lagi. Lasmi memperoleh
pekerjaan, menggantikan bibinya sebagai juru masak di sebuah LSM
perempuan. Gaji pertamanya kala itu Rp. 80 ribu.
Beberapa waktu kemudian suami Lasmi terkena sakit liver dan tidak
dapat bekerja lagi. Lasmi pun terpaksa menopang ekonomi
keluarganya sendirian. Selain itu, mereka juga menanggung biaya
hidup ibu dan bibinya yang tinggal bersama dengan mereka. Bibinya
ini ditinggalkan suaminya yang menikahi perempuan lain. Bibi yang
dulu memberikannya pekerjaan ini sebenarnya sudah memiliki 2 orang
anak yang sudah menikah, tapi ia lebih betah tinggal bersama
Lasmi.
Dalam kondisi ekonomi yang sulit, Lasmi masih mampu membiayai
ketiga anaknya bersekolah sampai ke tingkat SLTA. Samsudin,
anaknya yang tertua, bersekolah hingga tamat STM dan kemudian
bekerja sebagai pelayan di toko sepatu. Setelah kontraknya habis,
Samsudin sempat menganggur dan sekarang sudah bekerja lagi sebagai
petugas cleaning service. Samsudin telah berumah tangga dan sudah
mengontrak rumah sendiri. Anak kedua Mbak Lasmi, Firman, dahulu
tamat SMIP dan sekarang bekerja di sebuah kafe. Sedang anak
ketiganya, Kiki, masih bersekolah di STM. Suami Lasmi meninggal
tahun 2001 lalu, sedang ibunya meninggal tahun 2003.
Saat ini Lasmi masih tinggal di rumah kontrakan di daerah Menteng
- entah sampai kapan. Ia sudah mengontrak di sana sejak sekitar 18
tahun yang lalu. Waktu itu harga kontrakan hanya Rp. 25 ribu
setahun. Sekarang ia harus merogoh biaya Rp. 750 ribu per tahunnya
untuk meneruskan kontrakan di tempat yang sama.
Lasmi mengaku cukup senang bekerja di tempatnya bekerja sekarang,
karena teman-teman di sana cukup baik dan pengertian. Ia pun
mendapat penghasilan yang lumayan dan hak-haknya sebagai pekerja
terpenuhi. Tentang hak-hak pekerja perempuan, Lasmi sudah
mengetahuinya dari tempat ia bekerja sekarang. Lasmi tidak berniat
untuk mencari kerja di tempat lain, karena di tempat lain belum
tentu ia mendapat perlakuan yang sama.
Pada hari Sabtu dan Minggu, karena tempat ia bekerja libur, Lasmi
mencari penghasilan tambahan. Setiap Sabtu ia membantu memasak dan
membersihkan rumah seorang kenalannya. Untuk ini ia mendapatkan
Rp. 50 ribu setiap kali membantu. Kadang-kadang ia juga dipanggil
untuk mencuci baju atau memasak untuk pesta.
Penghasilan tetap Lasmi Rp. 970 ribu. Anaknya yang sudah bekerja
kadang juga memberikan sebagian penghasilannya. Seperlima
penghasilan Lasmi dalam 1 bulan digunakan untuk membayar SPP
anaknya yang masih bersekolah. Ia juga harus mengeluarkan biaya
Rp. 150 ribu per bulan untuk biaya transport dan jajan anaknya di
sekolah. Uang Rp. 150 ribu habis untuk ongkos perjalanan Lasmi
pergi dan pulang bekerja. Dipotong dengan biaya listrik, belanja
dapur dan kebutuhan rumah tangga lainnya, semua pendapatannya
habis untuk 1 bulan.
Mbak Lasmi tidak memiliki tabungan. Ia hanya mengikuti arisan di
lingkungan rumahnya Rp. 50 ribu per bulan. Jika mendapat arisan,
uangnya pun habis untuk macam-macam biaya: untuk biaya sekolah
anak, membayar kontrakan rumah atau keperluan-keperluan lain.
Seandainya ia sudah tidak bekerja lagi, ia ingin membuka usaha
sendiri: catering atau membuka warung nasi. Ia akan menggunakan
pesangonnya, mungkin seluruh pesangon yang ia terima, sebagai
modal usaha nanti. Keterampilannya yang bisa diandalkan mungkin
hanya itu - keterampilan yang didapatnya dari pengalaman
bertahun-tahun, bahkan turun-temurun.
Lasmi berharap anak-anaknya dapat hidup lebih beruntung darinya.
Untuk anak-anaknya yang belum menikah, ia berharap mereka tidak
buru-buru menikah saat masih muda. Ia ingin mereka lebih matang
dan dewasa dalam berpikir, sehingga saat menikah mereka dapat
mengurus rumah tangga dengan baik. Lasmi juga berharap ia dapat
menyekolahkan anaknya yang bungsu sampai di bangku perkuliahan.
Walau mungkin ia hanya dapat membiayai sampai jenjang diploma. Ia
berharap anaknya kelak dapat memperoleh pekerjaan yang dapat
memperbaiki kondisi ekonomi mereka. (RF) |
|