Edisi I No.4 Desember 2004
 
daftar isi
SAPAAN
FOKUS UTAMA
OPINI
WACANA
SOSOK
ADVOKASI 1 2
KESPER 1 2 3 4
PUISI KITA 1 2 3
WARTA 1 2 3 4
KRONIK 1 2 3
PUSTAKARIA 1 2
BEDAH BUKU 1 2
CATATAN LEPAS
SISIPAN
Cita-cita Lasmi: Menyekolahkan Anak Hingga Diploma

Ia bernama Sulasmi. Biasa dipanggil Mbak Lasmi. Perempuan Betawi ini lahir pada 5 April 1959 di Jakarta. Ia sulung dari empat bersaudara, buah perkawinan Samin dengan Romi. Bersama ketiga adiknya, sejak kecil ia hidup dalam keadaan ekonomi keluarga yang sulit. Ayahnya bekerja sebagai montir mesin tik. Ketika usianya 10 tahun dan adiknya yang terkecil 3 tahun, ayah mereka meninggal dunia. Ayahnya sudah lama mengidap penyakit asma, namun karena tidak punya biaya untuk berobat ke dokter, ayahnya hanya membeli obat-obatan di warung. Bahkan sebelum meninggal dunia, mereka tidak sempat membawa ayahnya ke rumah sakit.

Dua adiknya yang terkecil kemudian juga meninggal dunia, berturut-turut dalam tahun yang sama. Seorang meninggal karena campak, sedang adik bungsunya meninggal karena luka dalam yang tidak diobati karena ketiadaan biaya. Karena peristiwa ini, Lasmi ingat ketika saat itu penduduk kampung membantu menerangi rumah mereka dengan lampu-lampu untuk menghindarkan keluarga mereka dari musibah yang mungkin datang berikutnya. Waktu itu rumah mereka belum mendapat aliran listrik.

Untuk meringankan beban keluarga, Lasmi kecil kemudian dititipkan ibunya untuk tinggal bersama pamannya. Setahun di rumah pamannya, sekolah-nya dibiayai dan ia harus membantu pekerjaan di rumah. Karena tidak betah dan sering tidak akur dengan sepupunya, sewaktu liburan kenaikan kelas ia memutuskan untuk kembali ke rumah ibunya dan berhenti sekolah saja. Ketika itu ia sudah selesai kelas 3 Sekolah Dasar.

Lasmi memutuskan untuk membantu ibunya. Saat itu ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter gigi di daerah Matraman. Lasmi kemudian bekerja di klinik tempat praktek dokter gigi itu. Belakangan adik laki-lakinya juga berdagang asongan. Dengan pekerjaan ini, mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikan adik Lasmi hingga kelas 6 Sekolah Dasar.

Lasmi kecil tidak pernah memiliki cita-cita untuk masa depannya. Ia tidak pernah terpikir untuk menjadi presiden, dokter, atau profesi-profesi lainnya, karena ia mengerti bagaimana keadaan ekonomi mereka yang tidak akan pernah memungkinkan untuk itu. Saat itu, ia hanya berpikir bahwa ia harus mengikuti orang tua, tidak ingin diomeli orang lain selain keluarganya, dan ia ingin membantu orang tua mencari uang.

Saat ia berusia 16 tahun, ibunya menjodohkannya dengan Abdul Hasan. Pria ini dikenal ibunya karena ia adalah langganan warung nasi milik neneknya. Ia mengaku sebagai bandar sayuran yang memasok bahan dagangan ke pasar. Ibu dan neneknya berharap dengan menikahnya Lasmi, kehidupan ekonomi mereka dapat terbantu.

Lasmi dikenalkan dengan calon suaminya 3 bulan sebelum menikah. Mereka hanya sesekali bertemu, karena saat itu Lasmi masih bekerja. Selisih usia mereka sangat jauh. Pada awalnya Lasmi menangis dan tertekan. Ia marah dan menolak untuk dinikahkan. Tapi karena tidak dapat berbuat apa-apa, akhirnya ia pasrah. Belakangan ia mengetahui bahwa suaminya hanya pedagang sayuran, dan kehidupan ekonominya pun pas-pasan.

Tiga bulan pertama perkawinannya, Lasmi tidak mempedulikan suaminya. Namun kemudian akhirnya ia merasa kasihan juga dan mulai berbaikan dengan suaminya. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai 3 orang anak; semuanya laki-laki.

Setelah menikah, Lasmi berhenti bekerja. Kala itu ia pernah mengikuti kursus menjahit gratis yang diadakan kelurahan. Sebetulnya tidak benar-benar gratis, karena peserta kursus masing-masing harus membeli kain bahan untuk praktek. Lasmi tidak memiliki cukup uang untuk disisihkan bagi keperluan tambahan semacam itu, ia pun berhenti dari kursus.

Tahun 1991, bibi Lasmi mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya patah dan tidak dapat bekerja lagi. Lasmi memperoleh pekerjaan, menggantikan bibinya sebagai juru masak di sebuah LSM perempuan. Gaji pertamanya kala itu Rp. 80 ribu.

Beberapa waktu kemudian suami Lasmi terkena sakit liver dan tidak dapat bekerja lagi. Lasmi pun terpaksa menopang ekonomi keluarganya sendirian. Selain itu, mereka juga menanggung biaya hidup ibu dan bibinya yang tinggal bersama dengan mereka. Bibinya ini ditinggalkan suaminya yang menikahi perempuan lain. Bibi yang dulu memberikannya pekerjaan ini sebenarnya sudah memiliki 2 orang anak yang sudah menikah, tapi ia lebih betah tinggal bersama Lasmi.

Dalam kondisi ekonomi yang sulit, Lasmi masih mampu membiayai ketiga anaknya bersekolah sampai ke tingkat SLTA. Samsudin, anaknya yang tertua, bersekolah hingga tamat STM dan kemudian bekerja sebagai pelayan di toko sepatu. Setelah kontraknya habis, Samsudin sempat menganggur dan sekarang sudah bekerja lagi sebagai petugas cleaning service. Samsudin telah berumah tangga dan sudah mengontrak rumah sendiri. Anak kedua Mbak Lasmi, Firman, dahulu tamat SMIP dan sekarang bekerja di sebuah kafe. Sedang anak ketiganya, Kiki, masih bersekolah di STM. Suami Lasmi meninggal tahun 2001 lalu, sedang ibunya meninggal tahun 2003.

Saat ini Lasmi masih tinggal di rumah kontrakan di daerah Menteng - entah sampai kapan. Ia sudah mengontrak di sana sejak sekitar 18 tahun yang lalu. Waktu itu harga kontrakan hanya Rp. 25 ribu setahun. Sekarang ia harus merogoh biaya Rp. 750 ribu per tahunnya untuk meneruskan kontrakan di tempat yang sama.

Lasmi mengaku cukup senang bekerja di tempatnya bekerja sekarang, karena teman-teman di sana cukup baik dan pengertian. Ia pun mendapat penghasilan yang lumayan dan hak-haknya sebagai pekerja terpenuhi. Tentang hak-hak pekerja perempuan, Lasmi sudah mengetahuinya dari tempat ia bekerja sekarang. Lasmi tidak berniat untuk mencari kerja di tempat lain, karena di tempat lain belum tentu ia mendapat perlakuan yang sama.

Pada hari Sabtu dan Minggu, karena tempat ia bekerja libur, Lasmi mencari penghasilan tambahan. Setiap Sabtu ia membantu memasak dan membersihkan rumah seorang kenalannya. Untuk ini ia mendapatkan Rp. 50 ribu setiap kali membantu. Kadang-kadang ia juga dipanggil untuk mencuci baju atau memasak untuk pesta.

Penghasilan tetap Lasmi Rp. 970 ribu. Anaknya yang sudah bekerja kadang juga memberikan sebagian penghasilannya. Seperlima penghasilan Lasmi dalam 1 bulan digunakan untuk membayar SPP anaknya yang masih bersekolah. Ia juga harus mengeluarkan biaya Rp. 150 ribu per bulan untuk biaya transport dan jajan anaknya di sekolah. Uang Rp. 150 ribu habis untuk ongkos perjalanan Lasmi pergi dan pulang bekerja. Dipotong dengan biaya listrik, belanja dapur dan kebutuhan rumah tangga lainnya, semua pendapatannya habis untuk 1 bulan.

Mbak Lasmi tidak memiliki tabungan. Ia hanya mengikuti arisan di lingkungan rumahnya Rp. 50 ribu per bulan. Jika mendapat arisan, uangnya pun habis untuk macam-macam biaya: untuk biaya sekolah anak, membayar kontrakan rumah atau keperluan-keperluan lain.

Seandainya ia sudah tidak bekerja lagi, ia ingin membuka usaha sendiri: catering atau membuka warung nasi. Ia akan menggunakan pesangonnya, mungkin seluruh pesangon yang ia terima, sebagai modal usaha nanti. Keterampilannya yang bisa diandalkan mungkin hanya itu - keterampilan yang didapatnya dari pengalaman bertahun-tahun, bahkan turun-temurun.

Lasmi berharap anak-anaknya dapat hidup lebih beruntung darinya. Untuk anak-anaknya yang belum menikah, ia berharap mereka tidak buru-buru menikah saat masih muda. Ia ingin mereka lebih matang dan dewasa dalam berpikir, sehingga saat menikah mereka dapat mengurus rumah tangga dengan baik. Lasmi juga berharap ia dapat menyekolahkan anaknya yang bungsu sampai di bangku perkuliahan. Walau mungkin ia hanya dapat membiayai sampai jenjang diploma. Ia berharap anaknya kelak dapat memperoleh pekerjaan yang dapat memperbaiki kondisi ekonomi mereka. (RF)
© 2004 Kalyanamitra