|
|
Leptospirosis: Penyakit
Kencing Tikus
Leptospirosis adalah penyakit hewan yang menjangkiti manusia
melalui makanan, minuman, tangan yang tercemar oleh bakteri
leptospira atau lewat luka.
Penyakit ini dikenal di daerah yang kerap dilanda banjir, namun
sebenarnya harus diwaspadai kapan saja dan di mana saja selama di
lingkungan kita berkeliaran hewan pengerat dan hewan ternak.
Leptospirosis kerap disebut penyakit kencing tikus. Kenyataannya
tak hanya tikus yang membawa bakteri leptospira, tapi juga anjing,
kucing, harimau, musang, tupai, kambing dan sapi. Bakteri ini
menyerang liver dan ginjal hewan-hewan tersebut kemudian larut
dalam air kencingnya. Goresan pada kulit seseorang dapat menjadi
pintu gerbang masuknya urine yang terkontaminasi leptospira.
Bahkan urine manusia yang tercemar leptospira juga berpotensi
menularkan penyakit leptospirosis.
Bakteri leptospira bertahan hidup di air selama berminggu-minggu
hingga bulanan. Jika air yang terkontaminasi dimasak hingga
mendidih, maka bakteri langsung mati. Cairan pembersih lantai yang
mengandung disinfektan cukup efektif membunuh bakteri leptospira.
Varian bakteri leptospira sangat beragam sehingga vaksinasi
pencegahan penyakit pun relatif sulit dilakukan. Dari
varian-varian yang ada, yang relatif ganas adalah Leptospira
ictero-haemorrhagie. Bakteri varian ini terdapat di Indonesia.
Gejala terserang bakteri ini awalnya seperti flu: sakit kepala,
meriang, nyeri tenggorokan, muntah dan diare. Kemudian terjadi
pendarahan di bawah kulit mirip demam berdarah. Pendarahan juga
terlihat di air kencing pasien. Komplikasinya ke selaput otak
menyebabkan gejala nyeri luar biasa pada otot betis. Melalui uji
torniquet, demam berdarah tampak seperti bintik-bintik merah di
kulit sekitar 20 titik per inci persegi. Pada leptospirosis,
jumlahnya kurang dari itu. Masa inkubasi bakteri hingga munculnya
gejala kurang lebih 10 hari. Gejala yang muncul dan cukup khas
dari penyakit ini adalah mata atau kulit tubuh menjadi
kekuning-kuningan. Ini disebabkan oleh liver orang terkena telah
rusak oleh racun leptospira.
Menurut dr. Thomas Suroso MPH., ahli penyakit yang bersumber dari
binatang, meskipun bakteri leptospira ganas namun sangat mudah
penyembuhannya. Hanya diagnosanya sering rancu dengan penyakit
demam berdarah ataupun flu biasa. Antibiotikanya cukup murah,
seperti amoxilin atau penisilin yang cukup efektif membunuh
bakteri tersebut. Antibiotik ini mudah didapat di puskesmas. Hanya,
pemberian antibiotik jangan terlambat.
Menjaga kebersihan diri dan lingkungan adalah langkah jitu
menghindari kontaminasi bakteri leptospira. Tikus-tikus yang
berkeliaran di lingkungan rumah sebaiknya diberantas hingga ke
sarangnya. Perlu diingat bahwa kemasan makanan dan minuman yang
berasal dari gudang, sebelum dipajang dan dijual di toko dapat
terkontaminasi kencing hewan yang mengandung bakteri leptospira.
Tak ada salahnya setiap membeli minuman kaleng atau botol,
sebaiknya kaleng atau botol tersebut dicuci dengan sabun sebelum
meminumnya. Kemungkinan lain, kencing hewan juga bisa
mengontaminasi beras dan gula yang dikemas dalam karung goni di
rumah anda. Bakteri ini bisa mengontaminasi lingkungan kita.
Dengan demikian, tak ada salahnya kembali ke nasihat klasik:
Kebersihan Pangkal Kesehatan! (RF, SN)
Sumber:
Kompas, 30 Januari 2005
Majalah TEMPO, No. 02/XXXIV/13 Maret 2005 |
|