Edisi II No.1 Januari-Maret 2005
 
daftar isi
SAPAAN
FOKUS UTAMA 1 2
OPINI
WACANA 1 2 3
SOSOK
ADVOKASI 1 2
KESPER 1 2 3 4
PUISI KITA
KISAH
WARTA 1 2
KRONIK 1 2
PUSTAKARIA 1 2
BEDAH BUKU 1 2
BEDAH FILM
CATATAN LEPAS
SISIPAN 1 2 3
Leptospirosis: Penyakit Kencing Tikus

Leptospirosis adalah penyakit hewan yang menjangkiti manusia melalui makanan, minuman, tangan yang tercemar oleh bakteri leptospira atau lewat luka.

Penyakit ini dikenal di daerah yang kerap dilanda banjir, namun sebenarnya harus diwaspadai kapan saja dan di mana saja selama di lingkungan kita berkeliaran hewan pengerat dan hewan ternak.

Leptospirosis kerap disebut penyakit kencing tikus. Kenyataannya tak hanya tikus yang membawa bakteri leptospira, tapi juga anjing, kucing, harimau, musang, tupai, kambing dan sapi. Bakteri ini menyerang liver dan ginjal hewan-hewan tersebut kemudian larut dalam air kencingnya. Goresan pada kulit seseorang dapat menjadi pintu gerbang masuknya urine yang terkontaminasi leptospira. Bahkan urine manusia yang tercemar leptospira juga berpotensi menularkan penyakit leptospirosis.
Bakteri leptospira bertahan hidup di air selama berminggu-minggu hingga bulanan. Jika air yang terkontaminasi dimasak hingga mendidih, maka bakteri langsung mati. Cairan pembersih lantai yang mengandung disinfektan cukup efektif membunuh bakteri leptospira.

Varian bakteri leptospira sangat beragam sehingga vaksinasi pencegahan penyakit pun relatif sulit dilakukan. Dari varian-varian yang ada, yang relatif ganas adalah Leptospira ictero-haemorrhagie. Bakteri varian ini terdapat di Indonesia.

Gejala terserang bakteri ini awalnya seperti flu: sakit kepala, meriang, nyeri tenggorokan, muntah dan diare. Kemudian terjadi pendarahan di bawah kulit mirip demam berdarah. Pendarahan juga terlihat di air kencing pasien. Komplikasinya ke selaput otak menyebabkan gejala nyeri luar biasa pada otot betis. Melalui uji torniquet, demam berdarah tampak seperti bintik-bintik merah di kulit sekitar 20 titik per inci persegi. Pada leptospirosis, jumlahnya kurang dari itu. Masa inkubasi bakteri hingga munculnya gejala kurang lebih 10 hari. Gejala yang muncul dan cukup khas dari penyakit ini adalah mata atau kulit tubuh menjadi kekuning-kuningan. Ini disebabkan oleh liver orang terkena telah rusak oleh racun leptospira.

Menurut dr. Thomas Suroso MPH., ahli penyakit yang bersumber dari binatang, meskipun bakteri leptospira ganas namun sangat mudah penyembuhannya. Hanya diagnosanya sering rancu dengan penyakit demam berdarah ataupun flu biasa. Antibiotikanya cukup murah, seperti amoxilin atau penisilin yang cukup efektif membunuh bakteri tersebut. Antibiotik ini mudah didapat di puskesmas. Hanya, pemberian antibiotik jangan terlambat.

Menjaga kebersihan diri dan lingkungan adalah langkah jitu menghindari kontaminasi bakteri leptospira. Tikus-tikus yang berkeliaran di lingkungan rumah sebaiknya diberantas hingga ke sarangnya. Perlu diingat bahwa kemasan makanan dan minuman yang berasal dari gudang, sebelum dipajang dan dijual di toko dapat terkontaminasi kencing hewan yang mengandung bakteri leptospira. Tak ada salahnya setiap membeli minuman kaleng atau botol, sebaiknya kaleng atau botol tersebut dicuci dengan sabun sebelum meminumnya. Kemungkinan lain, kencing hewan juga bisa mengontaminasi beras dan gula yang dikemas dalam karung goni di rumah anda. Bakteri ini bisa mengontaminasi lingkungan kita. Dengan demikian, tak ada salahnya kembali ke nasihat klasik: Kebersihan Pangkal Kesehatan! (RF, SN)

Sumber:
Kompas, 30 Januari 2005
Majalah TEMPO, No. 02/XXXIV/13 Maret 2005
© 2005 Kalyanamitra