Versi Bahasa | English Version

Sejarah

Kalyanamitra berdiri pada tanggal 28 Maret 1985 sebagai respon terhadap ketidakadilan yang dihadapi perempuan Indonesia pada masa itu. Kemunculan Kalyanamitra sebagai organisasi perempuan yang independen pada masa Orde Baru berkuasa, berkaitan dengan munculnya ide perlunya sentra informasi mengenai perempuan. Kalyanamitra menjadi organisasi perempuan kedua yang lahir di masa Orde Baru setelah Yayasan Anisa Swasti (Yasanti) di Yogyakarta. Nama Kalyanamitra berasal dari Bahasa Sanskrit yang artinya “Kawan Baik”. Kalyanamitra didirikan oleh lima orang perempuan yaitu Ratna Saptari, Debra Yatim, Sita Aripurnami, Myra Diarsi, dan Syarifah Sabaroeddin. Pada awal berdirinya, Kalyanamitra ingin mendukung kerja berbagai pihak dalam penguatan buruh dengan memberikan informasi tentang hak-hak buruh, bahwa buruh layak mendapatkan upah yang sama, berhak mendapatkan cuti haid, cuti hamil dan melahirkan. Untuk itu Kalyanamitra berpihak pada perempuan tertindas seperti buruh, petani, nelayan, dan pekerja sektor informal. Oleh karena itu, Kalyanamitra melakukan pengumpulan data-data mengenai berbagai aspek perempuan dan mengangkatnya ke permukaan melalui seminar, pelatihan, dan diskusi publik.

Data-data mengenai berbagai aspek tentang perempuan dari perspektif feminis terkumpul di perpustakaan Kalyanamitra dalam berbagai bentuk seperti buku, working paper, laporan penelitian, video, foto, dan slide yang mendokumentasikan kehidupan perempuan. Perpustakaan menjadi wadah yang penting karena Kalyanamitra ingin menjadi Pusat Informasi dan Komunikasi Perempuan. Perpustakaan Kalyanamitra juga memiliki koleksi kliping tentang isu perempuan yang ada di media masa sejak tahun 1996. Selain perpustakaan, Kalyanamitra juga memiliki program pendidikan mengenai pelatihan analisis gender untuk aktivis-aktivis lembaga non pemerintah. Dapat dikatakan bahwa Kalyanamitra yang memperkenalkan pelatihan analisis gender di Indonesia pada 1990.

Dalam rangka memberikan pengetahuan dan penyadaran mengenai persoalan-persoalan perempuan kepada publik, Kalyanamitra menerbitkan berbagai publikasi baik buku, buletin, poster, pamflet dan lain sebagainya. Pada masa awal berdirinya, Kalyanamitra menerbitkan newsletter Mitra Media dan buletin bernama Dongbret, yang diterbitkan dalam bentuk sisipan cerita bergambar sehingga dapat mudah dimengerti dan dipahami. Akan tetapi, pada tahun 1994, saat terjadi pelarangan Tempo dan De Tik, Mitra Media juga dilarang penerbitannya oleh Pemerintah saat itu. Pada tahun 1991, sebagai bagian dari Kampanye Anti Perkosaan, Kalyanamitra menerbitkan buku saku mengenai penanganan kasus perkosaan. Selanjutnya newsletter Kalyanamitra berubah nama menjadi Bejana Wanita pada tahun 1996 dan Bejana Perempuan Pada tahun 2000. Selanjutnya pada tahun 2005 Kalyanamitra menerbitkan Buletin Kalyanamedia dan berubah nama menjadi Buletin Perempuan Bergerak pada tahun 2008 hingga saat ini. Selain buletin, Kalyanamitra juga menerbitkan beberapa buku tentang perempuan seperti Menghadapi Pelecehan Seksual (1999), Bila Perkosaan Terjadi (2000), Gerakan Perempuan dan Kesadaraannya (2001), Ibunda (2002), Gerakan Perempuan di Amerika Latin: Feminisme dan Transisi Menuju Demokrasi (2003), Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara (2004), Berbagi Pengalaman, Merajut Perlawanan: Tuturan Suvivor (2007), Evolusi Perempuan: Dari Klan Matriarkal Menuju Keluarga Patriarkal (2011), dan lain sebagainya.

Pada tahun 1993, Kalyanamitra menjadi sebuah resource center yang terbagi menjadi dua divisi kerja yaitu Divisi Penelitian Pengembangan dan Divisi Perpustakaan. Kegiatan yang dilakukan ialah penelitian tentang persoalan perempuan pekerja di Pasar Kramat Jati, Pekerja Rumah Tangga (PRT), pelacuran, perkosaan, pelecehan seksual, dan lainnya. Hasil penelitian itu diangkat dan disosialisasikan ke masyarakat.

Tahun 1995, Kalyanamitra memperkuat kampanye tentang isu kekerasan terhadap perempuan. Kalyanamitra banyak menerima kasus-kasus perkosaan dan mulai terlibat secara langsung dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan. Titik kulminasinya ialah peristiwa Kerusuhan Mei 1998. Ketika itu, terjadi perkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa. Kalyanamitra pun menjadi sekretariat Tim Relawan Kemanusiaan (TRK) untuk korban perkosaan di Jakarta.

Sejak itu, Kalyanamitra membangun gerakan perlawanan anti kekerasan terhadap perempuan baik akibat ketimpangan gender maupun oleh negara. Kerja menangani korban ini memerlukan wadah tersendiri. Dalam kaitan tersebut, tahun 1999 dibentuklah Divisi Pendampingan Korban di Kalyanamitra. Kemudian divisi-divisi pendukung kerja pendampingan korban seperti Divisi PendidikanDivisi Kampanye, dan Divisi Perpustakaan Dokumentasi. Namun sejak tahun 2003, Kalyanamitra tidak lagi memiliki Divisi Pendampingan Korban, divisi ini berubah menjadi Divisi Pendampingan Komunitas. Sejalan dengan itu maka sejak saat itu Kalyanamitra tidak lagi menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.

Berdasarkan hasil Perencanaan Strategis tahun 2016-2018, Kalyanamitra memiliki dua Kalyanamitra memiliki dua divisi yaitu:

1. Divisi Program

Dalam Divisi Program mencakup tiga bidang kerja:

  1. Pendampingan Komunitas dan Formasi Kepemimpinan Perempuan;
  2. Advokasi;
  3. Pengembangan Informasi dan Dokumentasi.

2. Divisi Keorganisasian. 

Dalam Divisi Keorganisasian terdapat bidang kerja:

  1. Manajemen Sumber Daya Manusia;
  2. Keuangan;
  3. Administrasi Perkantoran.