Desa dalam Kepungan Lansia

Desa dalam Kepungan Lansia

(catatan awal)

Oleh: Dianah Karmilah*


Para lansia berjejer lesehan duduk berselonjor, mengistirahatkan kaki mereka yang renta. Bahu mereka sandarkan pada dinding. Beberapa nampak berat membuka kelopak mata, namun ada pula yang setia mendengarkan pengarahan kepala dukuh yang berbicara tentang pentingnya menjaga kebersihan desa.  Pemandangan ini hampir merata di delapan pertemuan PKK pedukuhan di Desa Banjarasri. Seolah mengonfirmasi ucapan Kepala Desa Banjarasri, F. Edi Rianto bahwa mayoritas penduduk desa adalah lansia.

Terlintas, saya pikir agak berat ketika teringat misi yang harus kami bawa; memastikan perubahan desa membangun yang signifikan dengan mengintegrasikan amanat UU Desa, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dan penghapusan segala bentuk kekersan terhadap perempuan. Tetiba saya membayangkan desa membangun dan membangun desa akan berkejaran dengan kerentaan dan  malaikat maut.

Tapi sudahlah, perubahan memang bukan hadiah, ia harus diupayakan. Terkait pembangunan berkelanjutan dalam terjemahannya  mewujudkan inklusi sosial, di mana bonggolane adalah “tak ada warga yang tertinggal dalam pembangunan,” justru lansia adalah warga potensial yang akan tertinggal atau bahkan ditinggalkan dalam pembangunan. Saya berasumsi, sebaliknya, ketika lansia menjadi agen perubahan, justru suaranya akan lebih bermakna dan bergema, ketimbang suara manusia muda.

Pemetaan Awal

Menurut pemerintah desa setempat, dari 17 dusun yang resmi tercatat, satu dusun hampir hilang, yaitu Dusun Ngaren. Dusun terdampak bencana longsor tahun 2009 lalu, menyisakan 12 kepala keluarga (KK) yang masih bertahan. Otomatis, di dusun ini semua pelayanan dusun digabung dengan Dusun Borosuci. Dari 16 dusun yang aktif, menurut kader PKK Dusun hanya dua dusun yang memiliki Posyandu lansia, yaitu Dusun Kepiton dan Nglebeng.  Sementara, pemerintah desa juga di tahun 2019 belum menganggarkan program khusus lansia, minimal Penambahan Makanan Tambahan (PMT) lansia.

Kebutuhan akan pembahanan kelansiaan muncul di dua diskusi PKK Dusun, pun di dalam diskusi Kader PKK Desa. Namun demikian, ternyata prioritas yang ingin segera diselesaikan pemerintah desa adalah meningkatkan status gizi balita. Menurut catatan Puskesmas Kalibawang, capaian perilaku hidup sehat (PHBS) paling rendah di antara tiga desa lainnya di Kecamatan Kalibawang. Capaian hanya 35% dari 85% yang ditargetkan. Angka Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dan kelahiran bayi stunting berjumlah 5 kasus di tahun 2017 dan 3 kasus di tahun 2018. Terdapat 8 anak microchepallus di tahun 2018. Berdasarkan tuturan kader PKK Desa, ada satu kasus, di mana anak balita yang berstatus gizi kurang terkait dengan ibu bekerja yang menitipkan anak pada neneknya yang sudah lansia. Sehingga kader beberapa kali melakukan penjemputan anak untuk ditimbang, sebab sang nenek kesulitan membawa anak ke Posyandu.

Medan yang Ekstrim

Hamparan sawah hijau dikelilingi perbukitan langsung  membahagiakan pandangan mata sepanjang jalan masuk menuju Dusun Boro, Desa Banjarasri. Sebuah bangunan gereja menjulang tinggi, di seberangnya terdapat rumah sakit Santo Yusuf Boro. Dusun Boro ibarat gerbang Desa Banjarasri. Nampak megah dan mewah, namun beberapa dusun lain harus ditempuh dengan kendaraan yang fit dan tangguh. Jalanan ekstrim dan licin menjadi tantangan tersendiri. Menjadi maklum jika kader perempuan tidak banyak yang bisa aktif. Kendala minimnya transportasi dan kemampuan mengendarai kendaraan pribadi bagi perempuan juga sangat terbatas.

Perjalanan mengelilingi Desa Banjarasri dilakukan mulai dari Dusun Boro, ke arah barat jalanan makin menanjak, kami melewati Dusun Borosuci, Ngaren, dan Nglebeng. Jalanan mulai menanjak dengan kemiringan 30 derajat sampai 65 derajat. Jalanan paling ekstrim menuju Dusun Sumbersari bagian atas (Kagok). Untuk menuju dusun dimaksud, kami harus memasuki kawasan Kecamatan Samigaluh, dengan jalanan cor blok yang baru dibangun tahun 2018. Menurut pengakuan warga, awalnya jalan seperti sungai kering, terjal, dan berbatu.

Kami harus menggotong orang melahirkan dan orang sakit menggunakan resbang (kursi kayu), jalan kaki dari Sumbersari ke RS. Santo Yusuf Boro,” ujar Bu Dukuh.

Longsor dan kekeringan menjadi cerita yang tak terlupakan bagi warga. Menjadi cerita turun-temurun yang harus dihadapi warga. Kekeringan dan kesulitan air biasanya di bulan Agustus sampai dengan Desember. Dusun Sumbersari bagian atas, dikenal sebagai desa kesulitan air. Pernah pemerintah desa mencoba membuatkan sumur untuk warga, namun sampai kedalaman 100 meter tidak ada sumber air. Dusun Tosari bagian atas juga dusun yang sering dilanda kesulitan air. Setiap kesulitan air terjadi, warga akan menunggu bantuan tangki air bersih yang biasanya didatangkan oleh pihak gereja. Atau warga akan membeli setiap satu tangki dengan membayar Rp150.000,-. Satu tangki dapat memenuhi kebutuhan minum sampai 10 hari dengan catatan diirit-irit benar. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan selama musim kering warga membutuhkan sekitar Rp2.250.000,- selama musim kering. Beban itu ditanggung oleh 47 KK di Dusun Tosari.

Respons Pemerintah Desa

“Kami bekerja dengan sukacita,” ungkapan ini menjadi moto aparat pemerintah desa dalam menjalankan amanat mengelola pembangunan desa. Kami dapat membayangkan tantangan pemerintah Desa Banjarasri  yang tidak mudah. Inisiasi penggalian dan penyebaran informasi melahirkan inovasi dalam metodenya. Rapat koordinasi pedusunan dilakukan keliling antarpedukuhan sejak tahun 2017. Hal ini lantaran ada perangkat desa yang sudah hampir pensiun, tetapi tidak mengetahui di mana letak salah satu pedusunan karena medan yang memang berat. Pertemuan tak dapat dilakukan hanya di satu tempat. Penjangkauan menjadi salah satu cara untuk memenuhi pelayanan dasar bagi warga.


___

*) Penulis merupakan staf lapangan Kalyanamitra yang menjadi fasilitator untuk wilayah kerja Desa Banjarasri, Kec. Kalibawang, Kulon Progo, DI Yogyakarta.


BERITA LAINNYA

Tuesday, 2 April 2019
Perempuan Kalibawang Dukung Pemilu Bersih dan Dorong Kebijakan yang Pro Kepentingan Perempuan

Kalyanamitra, Banjaroyo – Paguyuban Perempuan Menoreh (Guyub Remen) bersama Kalyanamitra menghelat acara dengan tema "Pemilu Bersih, Menang Bersama Perempuan" pada Sabtu, 16 Maret 2019 di Embung Kra...

Friday, 29 March 2019
One Thousand Voices

Kalyanamitra, Jakarta – Awal tahun 2017, Kalyanamitra turut terlibat dalam sebuah proyek One Thousand Voices yang diinisiasi oleh Katya Lucia Berger, seorang produser dan jurnalis multimedia dari...

Monday, 18 March 2019
[Press Release] Pemilu Bersih, Menang Bersama Perempuan!

Di Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Paguyuban Perempuan Menoreh melihat banyak persoalan yang dihadapi kaum perempuan. Masalah perkawinan anak, kesehatan ibu dan anak, gizi buruk, stunting, jaminan k...

Monday, 10 December 2018
[Siaran Pers] Segera Bahas dan Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual!

Jakarta, 30 November 2018 – Sudah dua tahun Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) mengendap di DPR, dan selama itu pula masuk dalam agenda prolegnas, namun tak kunjung dip...