Guyub Remen: Wadah bagi Perempuan Banjaroya untuk Mewujudkan Mimpi Bersama

Oleh: Estu Fanani

PAGUYUBAN PEREMPUAN MENOREH yang disingkat GUYUB REMEN didirikan pada tanggal 4 oktober 2015. GUYUB REMEN merupakan wadah atau organisasi bagi perempuan-perempuan di desa Banjaroya, kecamatan Kalibawang, kabupaten Kulon Progo, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang bertujuan memajukan dan memberdayakan peran perempuan di lingkup keluarga dan masyarakat di desa Banjaroya, serta mendorong dan memastikan kebijakan pemerintah daerah yang berkeadilan dan berkesetaraan gender.

Sejarah Berdirinya GUYUB REMEN

Pembentukan GUYUB REMEN pada dasarnya merupakan pengejawantahan dari upaya dan proses belajar para perempuan di desa Bajaroya. GUYUB REMEN dibentuk dengan semangat untuk mandiri dan menjadi cerdas, kritis, keswadayaan serta prinsip dari, oleh dan untuk kepentingan anggota secara bersama-sama. GUYUB REMEN adalah wadah ekonomi, sosial, kesehatan dan pendidikan, bukan sekedar perkumpulan biasa tetapi yang lebih penting adalah kumpulan perempuan yang mempunyai semangat dan tujuan yang sama untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi khususnya dalam bidang ekonomi, sosial, kesehatan, dan pendidikan menuju tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

Awalnya GUYUB REMEN adalah kelompok-kelompok diskusi yang dibentuk oleh Kalyanamitra. Dalam perjalanan dan proses pendampingan, pelatiha serta diskusi-diskusi, mereka mendapatkan kesadaran baru. Mereka tersadar bahwa selama ini para perempuan di desa Banjaroya tidak pernah terlibat dalam pembangunan desa ataupun pengambilan keputusan untuk masyarakat desa. Mereka selama ini hanya penjadi penonton tanpa pernah terlibat bahkan kadang tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi di desa mereka.

Sebagian besar perempuan di desa Bajaroya adalah ibu rumah tangga. Mereka berpikir bahwa tugas mereka adalah di rumah, mengerjakan pekerjaan domestik. Seperti yang selalu diajarkan secara turun temurun bagaimana menjalankan peran perempuan dalam rumah tangga. Mereka tidak mempunyai keberanian untuk berbicara atau mengemukakan pendapat. Meskipun ada ketidak setujuan mereka lebih memilih diam dan nrimo ing pandum. Mereka hanya pasrah dengan keadaan tanpa mempunyai keberanian untuk berubah.

Para perempuan desa Banjaroya ini kesehariannya hanya di rumah dan mengerjakan pekerjaan domestik. Mereka tidak pernah tahu ada kebijakan ataupun perubahan di desa yang dilakukan oleh pihak dusun, desa maupun kecamatan. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk berorganisasi ataupun berpartisipasi dalam pembangunan desa. Apalagi berpikiran untuk bisa jadi pemimpin dan berani menyuarakan aspirasi perempuan di desa. Secara ekonomipun mereka tidak memiliki penghasilan sendiri dan tergantung pada suami.

Pada akhir tahun 2012 Kalyanamitra mengadakan pendampingan kelompok perempuan di desa Banjaroya dengan menggunakan pendekatan pemberdayaan ekonomi dan pendidikan hak-hak perempuan. Pendampingan ini dilakukan di tingkat dusun dengan cara membangun kelompok-kelompok baru, memaksimalkan kelompok yang telah ada, dan juga bekerjasama dengan lembaga lain yang telah mempunyai kelompok dampingan. Semula Kalyanamitra membentuk kelompok perempuan hanya di beberapa dusun di desa Banjaroya, namun pada rentang waktu 2013-2015, kelompok perempuan yang terbangun berkembang menjadi 20 kelompok di 17 dusun, dengan total keseluruhan anggota sebanyak 430 orang.

Kalyanamitra melihat bahwa selama pendampingan, para perempuan anggota kelompok dampingan ini mempunyai potensi yang sangat luar biasa. Mereka sangat semangat untuk belajar dan mempunyai keinginan berubah menjadi lebih baik. Semua pengetahuan dan informasi yang diberikan oleh Kalyanamitra diserap dengan baik oleh mereka. Ibarat gelas kosong, mereka dahaga untuk dipenuhi dengan segala macam pengetahuan yang selama ini tidak didapatkan.

Diakhir periode program pendampingan Kalyanamitra pada tahun 2015, Kalyanamitra bersama dengan kelompok-kelompok perempuan yang telah dibangun mendiskusikan tentang keberlanjutan kelompok mereka dengan membuat exit strategy. Hal ini diambil agar keinginan mereka untuk terus berkelompok dan belajar bersama tetap terus bisa dilakukan, meskipun Kalyanamitra sudah tidak di desa Banjaroya lagi. Oleh karena itu, mereka menginkan sebuah wadah organisasi yang lebih jelas dan terstruktur.

Perjalanan dan Tantangan GUYUB REMEN

Dalam perjalanan pendampingan selama dua tahun lebih, mereka belajar untuk menjadi cerdas, kritis, peduli, dan mandiri. Tidak hanya sebagai pengguna pelayanan masyrakat tetapi juga aktif sebagai kader yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Mereka tidak lagi ingin menjadi penonton tapi aktif sebagai pelaku perubahan. Mereka sadar apa yang dilakukan tidaklah mudah, banyak orang memandang sebelah mata dengan keterlibatan perempuan dalam pembuatan kebijakan di desa. Tetapi berkat kemauan yang kuat akhirnya mereka diakui sebagai salah satu penggerak para perempuan di desa dan dilibatkan dalam musyawarah desa atau kegiatan-kegiatan yang ada di desa.

Dengan berkembangnya kelompok-kelompok di tiap-tiap dusun, yang semula hanya beberapa kelompok kini menjadi 20 kelompok di 17 dusun, beranggotakan sekitar 430 anggota. Mereka berpikir kenapa tidak dijadikan satu perkumpulan yang memayungi semua kelompok tersebut. Sehingga bila pendampingan dari Kalyanamitra telah berakhir mereka masih tetap terus bisa melakukan kegiatan, pelatihan dan memperjuangkan hak-hak perempuan serta kesehatan.

Kelompok-kelompok perempuan di desa Banjaroya dengan dibantu Kalyanamitra mengadakan lebih dari 2 (dua) kali workshop persiapan pembentukan sebuah organisasi yang nantinya akan menaungi kelompok-kelompok mereka. Workshop-workshop persiapan tersebut dilakukan pada 4-5 Agustus 2015 dan 26-27 Agustus 2015. Kemudian lahirlah Paguyuban Perempuan Menoreh (GUYUB REMEN), di wilayah bukit Menoreh yang beranggotakan perempuan di desa Banjaroya. GUYUB REMEN mulai menapakkan kakinya membentuk organisasi dengan merumuskan visi-misi bersama, dan Anggatan Dasar, Anggaran Rumah Tangga serta strategi kegiatan. Visi GUYUB REMEN adalah menjadikan perempuan Banjaroya sejahtera dan mandiri. Maksud dari pembentukan GUYUB REMEN adalah memajukan keberdayaan peran perempuan di lingkup keluarga dan masyarakat serta memastikan upaya pemihakan atas kebijakan pemerintahan yang berkeadilan dan berkesetaraan gender. Tujuan pembentukan GUYUB REMEN adalah mencapai kesejahteraan anggota dan masyarakat luas melalui kegiatan-kegiatan yang ditetapkan oleh Paguyuban.

Misi GUYUB REMEN yang akan dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan, yakni: 1) Memelihara dan mempertinggi watak perempuan yang sadar meraih cita-cita kemerdekaan, kesejajaran, kesetaraan, kebebasan, keadilan dan kesejahteraan; 2) Mendorong peningkatan kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan anggota yang bermanfaat bagi keluarga, lingkungan sosial, dan masyarakat umumnya; 3) Memperkokoh penguatan kerja sama antar anggota; 4) Meningkatkan saling hubungan unit-unit kegiatan semakin produktif; 5) Menumbuhkan cipta dan karsa dalam meraih sasaran keberdayaan ekonomi yang mandiri; 6) Memelihara dukungan pelbagai pihak terhadap pemajuan peran perempuan.

Mereka tidak hanya memikirkan tentang visi dan misi saja tetapi juga membuat lambang yang mewakili kegiatan mereka. Lambang itu terdiri rangkaian berbentuk oval atau bulat telur melingkar pada garis berkesinambungan tidak terputus sebagai kodrati perempuan pemelihara kehidupan, dengan warna dasar ungu yang mencirikan perjuangan perempuan dan di dalamnya terdapat peta wilayah desa Banjaroya berwarna hijau, serta sekumpulan manusia yang tegak berdiri.

Akhirnya, mereka mengadakan Musyawarah Besar (MuBes) pertama yang dihadiri 100 orang kader perwakilan dari tiap kelompok pada 28-29 September 2015 dan menyepakati untuk mendirikan organisasi Paguyuban Perempuan Menoreh (GUYUB REMEN), sekaligus menyepakati AD/ART yang dibahas dan memilih pengurus GUYUB REMEN untuk periode Kepengurusan 2016-2018.

GUYUB REMEN terbentuk dengan dukungan dari anggota kelompok dan pemerintah setempat. Hal ini terlihat ketika peluncuran GUYUB REMEN pada 4 Oktober 2015 dihadiri oleh kurang lebih 500 orang peserta. Selain itu, hadir pula Ibu Kanjeng Ratu Hemas, perwakilan dari kabupaten (Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana / BPMDPPKB), Dinas Sosial, Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Camat Kalibawang, Kepala Desa Banjaroya, Anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo, Perangkat Desa Banjaroya dan masyarakat sekitar. Peluncuran GUYUB REMEN ini menjadi satu even yang sangat penting karena berdirinya GUYUB REMEN diketahui oleh masyarakat desa Banjaroya dan Pemerintah Daerah sebagai organisasi perempuan yang cukup banyak anggotanya dan mempunyai peranan penting di desa Banjaroya.

Proses pembentukan organisasi GUYUB REMEN, perumusan visi, misi, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga telah memberikan pembelajaran yang besar bagi perempuan-perempuan di desa Banjaroya tentang demokratisasi dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan terdekat kita. Mereka belajar memahami bagaimana proses pembentukan dan mekanisme sebuah organisasi yang berbasiskan keanggotaan dan pengambilan keputusan secara demokratis, terbuka dan transparan.

Pembuatan organisasi ini banyak memberikan dampak perubahan yang signifikan pada para perempuan di Banjaroya dan masyarakat sekitarnya. Mereka yang dulunya pasif dan takut, bahkan untuk berbicara dengan pak Lurah atau perangkat desa, mereka tidak mempunyai keberanian. Setelah mengikuti pelatihan berorganisasi dan kepemimpinan, mereka mulai berani bertanya tentang kebijakan di desa. Bila ada pemberitahuan atau kebijakan pemerintah yang belum disebarkan ke warga desa, mereka berani bertanya. Mereka mulai berani mencalonkan diri menjadi kader-kader pelayanan masyarakat seperti posyandu dan lainnya.

Yang membedakan GUYUB REMEN dengan kelompok atau organisasi perempuan berbasis komunitas lainnya adalah seperti PKK, dasa wisma, atau lainnya adalah; dalam GUYUB REMEN befokus pada pemberdayaan dan penguatan masyarakat secara umum dan perempuann secara khusus di wilayahnya agar menjadi cerdas dan kritis, dengan adanya pendidikan kepemimpinan. GUYUB REMEN secara rutin melakukan pertemuan dan membahas isu ekonomi, sosial, budaya dan juga usaha bersama, serta ikut mewarnai proses-proses pengambiilan keputusan di tingkat desa.

Perjalanan awal GUYUB REMEN tidaklah mudah, dimana masih banyak warga yang memandang sebelah mata dan juga memandang sinis kegiatan mereka. Hal ini karena perubahan yang mereka alami, dari perempuan yang pasif dan dianggap tidak mampu, menjadi perempuan-perempuan yang kritis, berpengetahuan dan berani berbicara serta menyampaikan pendapat mereka di forum-forum dusun maupun desa. Keberanian mereka untuk berbicara tidak hanya mempengaruhi keaktifan mereka dalam proses pembuatan kebijakan dan pembangunan di desa saja, namun juga di dalam rumah tangga masing-masing. Komunikasi antara suami istri menjadi lebih baik. Istri mempunyai keberanian untuk mengemukakan pendapatnya, sehingga suami menjadi tahu apa yang diinginkan istrinya dan mereka menjadi pasangan yang dengan sukarela mulai saling berbagi peran dalam rumah tangganya.

Tantangan GUYUB REMEN yang akan datang adalah bagaimana meningkatkan kapasitas para pengurus atau anggota yang masih belum merata. Berkat lobby dengan Bupati, 4 (empat) orang anggota GUYUB REMEN dapat mengikuti pendidikan kejar paket C secara gratis. Tidak hanya persoalan pendidikan para anggota yang rata-rata lulusan SD. Tetapi juga kapasitas pengetahuan tentang hak perempuan, strategi melakukan lobi pada pembuat kebijakan, dan kepemimpinan yang perlu ditingkatkan. Bagaimana meminimalisir ketimpangan dan membangun hubungan yang setara antara perempuan dan laki-laki.

Mereka tidak hanya perlu belajar tentang organisasi, melobi atau kaderisasi kepemimpinan saja, namun juga perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk memfasilitasi. Sehingga kelak bila tidak lagi ada pendampingan dari Kalyanamitra, mereka tetap masih bisa menggerakkan organisasi GUYUB REMEN dan aktif dalam pembangunan desa.

Kemajuan Para Perempuan

Perjalanan GUYUB REMEN ini seperti menjadi tonggak sejarah perubahan para perempuan di desa Banjoraya. Mereka yang dulunya bukan siapa-siapa kini mereka menjadi salah satu penggerak roda pembangunan di desa mereka. Seperti yang dikatakan salah satu pengurus GUYUB REMEN “Perempuan selama ini selalu dianggap lemah dan hanya konco wingking tanpa punya keberanian untuk bersuara. Tetapi sejak adanya GUYUP REMEN perempuan mulai maju, berani untuk memperjuangkan hak-haknya, pemberdayaan ekonomi dan kesehatan reproduksi.

Pengambilan keputusan di tingkat desa Banjaroya tidak lagi didominasi oleh laki-laki. Para perempuan sudah mulai ikut aktif dalam pengambilan keputusan atau kebijakan di tingkat dusun (khususnya di dusun Duren Sawit) maupun tingkat desa. Mereka juga memiliki kesempatan-kesempatan untuk berperan aktif di tingkat kecamatan. Anggota GUYUB REMEN mulai dilibatkan dalam pengambilan keputusan di tingkat desa, yakni: 2 (dua) orang anggota GUYUB REMEN diberi kepercayaan menjadi panitia seleksi/pemilihan perangkat desa oleh Kepala Desa Banjaroya untuk periode September - November 2015, dan 3 (tiga) orang anggota GUYUB REMEN ditunjuk menjadi anggota Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) oleh Kepada Desa Banjaroya.

Keberadaan GUYUB REMEN sudah diakui oleh pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, dan parlemen di kabupaten sebagai salah satu organisasi perempuan berbasis komunitas yang besar dan terorganisir. Bahkan di forum-forum masyarakat, kalau ada perempuan yang kritis dan banyak tanya langsung mendapat label bahwa itu pasti dari GUYUB REMEN. Dalam pemilihan Komite PAUD antar dusun, salah satu pengurus GUYUB REMEN menjadi Wakil Ketua PAUD. Anggota GUYUB REMEN juga diundang dalam Musrenbangdes (Musyawarah Rencana Pembangunan Desa) dan bahkan ada yang menjadi anggota penyelaras RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa).

Seperti kata pepatah “Sebuah perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah” dan “Usaha terpanjang dan paling sulit selalu mempunyai titik awal.” Usaha yang dilakukan oleh Kalyanamitra dan GUYUB REMEN selama hampir lima tahun tidaklah sia-sia dengan apa yang telah dicapai oleh para perempuan desa Bajaroya. Pada Musyawarah Besar kedua yang dilakukan pada Januari 2018 mereka mulai lebih terstruktur dan jelas tujuannya.

Hasil dari Rapat Kerja GUYUB REMEN tahun 2018 menekankan adanya pengembangan jaringan yang lebih luas, meningkatkan pengetahuan dan layanan kesehatan reproduksi serta meningkatkan ekonomi perempuan. Bidang kerja GUYUB REMEN meliputi: 1) Kesehatan reproduksi; 2) Kebijakan UU tentang Desa; 3) Advokasi di Kulon Progo; 4) Peningkatan ekonomi perempuan, termasuk bagaimana mendorong perempuan mempunyai properti dan usaha bernilai ekonomi, sehingga perempuan dapat diakui juga sebagai pelaku ekonomi dan memberikan kontribusi ekonomi dan sosial dalam pembangunan didesanya atau di tingkat yang lebih luas lagi.

Perjalanan dan tantangan ke depan dalam memajukan perempuan masihlah panjang dan berliku. Namun, para perempuan Banjaroya memiliki semangat juang yang sangat tinggi. Nilai dan semangat juang dari GUYUB REMEN adalah meninggikan mutu dan martabat perempuan yang sadar akan hak melalui nilai ketekunan, kerukunan, giat aktif, niat teguh, sehat, disiplin, mandiri, kokoh, kuat, asih, ikhlas, komitmen, tanggungjawab, pantang mundur, dan tidak terikat kepentingan partai politik.

Seperti kata R.A Kartini yang menjadi semangat juang GUYUB REMEN Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain. Para perempuan Banjaroya membebaskan dirinya dari ketertinggalan, kebutaan ilmu pengetahuan dan keikutsertaan mereka dalam membangun desanya, agar bisa menolong perempuan-perempuan lain di sekitar mereka. Seperti keberanian RA Kustiyah Wulaningsih Retno Edi atau Nyi Ageng Serang yang turut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia; dan keteladanan Sutartinah atau Nyi Hajar Dewantoro sebagai penyokong Kongres I Perempuan pada 22 Desember 1922 yang dikenal sebagai Hari Ibu.

Semangat itu jelas tersampaikan dalam lagu mars GUYUB REMEN yang diciptakan oleh John Tobing –seorang laki-laki yang pernah menjadi pendamping ketika masih berbentuk kelompok-kelompok perempuan di desa Banjaroya--.

Yen podo karepe, yen gumilang s’mangate

Ayo bareng, sinau bareng

Nandur obat, ngerti kespro lan gender

Melu mimpin mbangun deso

Ref.

Monggo, Monggo seperjuangan

Ngalahake penindasan

Perempuan kudu menang

Guyub Remen Banjaroyo

Monggo, Monggo seperjuangan


Ngalahake penindasan

Perempuan kudu menang

Guyub Remen Banjaroyo

***Kalyanamitra-2018***


BERITA LAINNYA

Monday, 8 October 2018
[Press Release] Pertama di DKI Jakarta, Kebijakan tentang Pencegahan Perkawinan Usia Anak

Press Release
Pertama di DKI Jakarta, Kebijakan tentang Pencegahan Perkawinan Usia Anak
Berdasarkan data BPS 2017, angka perkawinan usia anak di Indonesia mencapai 25.71%, dan 12.76% nya d...

Saturday, 30 June 2018
[Rilis Pers] Posyandu sebagai Garda Depan Layanan Kesehatan dan Sosial Dasar Masyarakat dalam Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

Jakarta, 3 April 2018 – Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) memiliki lima belas layanan kesehatan dan sosial dasar dalam programnya sesuai mandatnya dalam Peraturan Dalam Negeri No. 19 Tahun 2011 Tenta...

Friday, 29 June 2018
[Rilis Pers] Kebijakan, Program, dan Anggaran Posyandu Perlu Dibenahi: Hasil Audit Gender Komunitas Terhadap Layanan Posyandu di Tiga Wilayah

Jakarta, 31 Maret 2018 – Pada awal pencanangannya, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) memiliki program prioritas yang terdiri dari lima layanan kesehatan yakni perbaikan gizi, imunisasi, penanganan di...

Thursday, 28 June 2018
[Rilis Pers] Program Posyandu Membebani Kader Posyandu: Hasil Audit Gender Komunitas Terhadap Layanan Posyandu

Jakarta, 21 Maret 2018 – Sejak dicanangkan pada tahun 1986, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menjadi garda terdepan dalam pemantauan dan peningkatan status gizi dan kesehatan ibu dan anak di masyar...