“Jamban” Sebuah Kemewahan

Penulis: Dianah Karmilah


Wadah-wadah air (ember, baskom, dan bekas cat) berjejer menampung air hujan di pelataran rumah persis di bawah titisan genteng rumah. Air adalah barang berharga yang langka di Dusun Sumbersari Kagok, Desa Banjarasri, Kulon Progo. Pemerintah setempat sebenarnya sudah mengupayakan pengeboran kedalaman 100 meter, namun air tak kunjung menetes. Akhirnya, tampungan air dibuat di rumah Kepala Dukuh untuk menampung 5000 liter air dari mata air terdekat, atau jika musim kering pasokan dari truk tangki yang dibeli warga sebesar Rp150.000 untuk sekali kiriman.

Sepanjang jalan penulis mencium bau pesing, entah dari mana asalnya. Kami menyusuri jalan setapak sepanjang setengah kilometer dari jalan utama menuju rumah sebut saja Nurul (bukan nama sebenarnya -pen). Anak balitanya yang berusia 4 tahun divonis stunting. Sang anak bertubuh kurus ini bergerak aktif, namun belum bisa bicara.

Bulan Maret 2019, saya bermaksud menumpang kamar mandi, ternyata rumah ukuran 11x12 meter ini tidak memiliki jamban. Lalu kami kembali di bulan Juli 2019, ada jamban baru di belakang rumahnya.

“Saya membangun rumah ini tahun 1970,” ujar bapak tua pemilik rumah ini. Ia meneruskan bahwa baru bisa membangun jamban bulan Juni lalu saat lebaran.

“Berapa dana yang dihabiskan, Pak?“ tanya saya padanya.

“Kurang lebih 6 juta,” jawabnya.

Berarti keluarga Nurul ini hidup tanpa jamban selama 49 tahun. Memang harga yang mahal untuk ukuran warga Desa Banjarasri yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

Mahalnya biaya untuk membangun jamban sederhana ini (kloset dan bak mandi tanpa keramik) karena medan yang berat untuk mengangkut batako, pasir, semen, dan material lain. Toko besi terdekat sekitar 2 km, namun rute membawa barang berat menuju jalan Boro-Sumbersari Kagok yang curam itulah yang membuat ongkos menjadi mahal.

Belum lagi lokasi rumah keluarga Nurul yang harus melewati jalan setapak. Mobil hanya bisa masuk di jalan utama, sehingga mengangkut material menuju rumah menambah biaya angkut hingga hampir dua kali lipat dibandingkan dengan daerah dataran rendah yang aksesnya lebih mudah.

Lain Nurul lain pula pengalaman Dilah (bukan nama sebenarnya -pen) dari Dusun Dukuh. Rumahnya dengan tembok yang belum di-plur ini, juga tidak memiliki jamban. Di depan rumah Dilah, ada satu rumah joglo Jawa yang juga tak memiliki jamban. Hanya ada dua gentong air dan satu selang yang biasa digunakan dua keluarga ini untuk bersih-bersih dan buang hajat.

Puskesmas Kalibawang mencatat di tahun 2018 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Desa Banjarasri sekitar 35% atau 496 KK dari total jumlah KK yang ada. Sementara 65% atau 924 KK belum menerapkan PHBS.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) meliputi juga sanitasi yang baik seperti ada jamban dengan air bersih dan pembuangan yang tidak mencemari lingkungan. Realitanya, di Kecamatan Kalibawang masih ada rumah yang pembuangan klosetnya dialirkan ke kolam ikan.

Pemerintah Desa Banjarasri sendiri berupaya membangun jamban untuk warga. Ada 22 warga pada tahun 2019 yang mendapat jatah pembangunan jamban. Sebagian menggunakan dana desa, sebagian lagi menggunakan dana bantuan kabupaten. Sayangnya, dana bantuan kabupaten hanya menyediakan kloset jongkok dan septictank. Lalu aparat desa yang menjalankan pembangunan ini berseloroh, “klosetnya ada tapi jamban atasnya ya pakai sarung!”


BERITA LAINNYA

Thursday, 6 February 2020
[PERNYATAAN SIKAP] Apa Kabar Upaya Penghentian Praktik Sunat Perempuan di Indonesia?

PERNYATAAN SIKAP
Apa Kabar Upaya Penghentian Praktik Sunat Perempuan di Indonesia?
Jakarta, 06 Februari 2020 – Tanggal 6 Februari diperingati sebagai International Day of Zero Tolerance ...

Friday, 10 January 2020
Pelatihan Undang-Undang Desa dan SDGs di Kalibawang: Upaya Membumikan SDGs pada Perempuan Desa

Kalyanamitra, Kalibawang – Salah satu kegiatan dalam program pendampingan perempuan desa yang dilakukan oleh Kalyanamitra adalah memberikan pelatihan Undang-Undang Desa No. 6 Tahun 2014 (UU Desa) d...

Thursday, 7 November 2019
Rembuk Stunting Desa: Upaya Perkuat Komitmen Pencegahan dan Penanganan Stunting Mulai dari Desa

Kalyanamitra, Kalibawang – Pada akhir Juni 2019 empat desa di Kecamatan Kalibawang menggelar rembuk stunting dalam waktu berdekatan yakni Desa Banjarharjo, Desa Banjarasri, Desa Banjaroyo, dan ...

Friday, 4 October 2019
Rembuk Perempuan Sebagai Ruang Perempuan Desa Mengusulkan Pendapat

Kalyanamitra, Kalibawang – Posisi perempuan terlebih perempuan desa masih melekat pada posisi yang terpinggirkan. Konstruksi sosial yang mengutamakan dominasi kekuasaan hanya pada laki-laki masih me...